Artikel

Muda

M. Arief B.

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

"Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya" → peternak puyuh di desa di Gunung Kidul DIY Hadiningrat yang sedang belajar menulis →

Terangnya Lebaran Bagi Kang Tenggar


REP | 29 August 2011 | 04:19 Dibaca: 119   Komentar: 7   Nihil

Sepulang dari lembur kandang sekitar jam 23.30 waktu hape, pinginnya posting lagi. Tapi badan rasanya sudah berat. Lagian mau nulis apa, belum nemu topik yang ingin dicatat.
Akhirnya hanya buka Kompasiana sebentar, mengobati rasa kecanduan yang masih menjalar. Untuk kemudian tidur menunggu sahur.

Baru pada pagi ini, mencoba untuk menulis lagi. Tapi tentang apa?
Hm… Teringat dengan perjodohan Mbak Ma Sang Ji dan Mas Katedra Rajawen, saya ingin menulis tentang malu. Peristiwa apa yang bikin saya paling malu, untuk saya catat.

Dan ternyata yang paling memalukan saya, malah baru beberapa hari ini terjadi. Gara-gara ngobrol sedikit dengan seseorang yang (sangat kebetulan) beberapa kali tarawih, saya selalu duduk bersebelahan. Namanya Kang Tenggar. Begitu saya biasa memanggil. Kang sama juga dengan Mas.

Baru sekitar dua hari yang lalu, selesai tarawih, sedikit berbisik saya tanya ke Kang Tenggar: “Pripun, Kang, sekedhap meleh mpun bodo.” (Gimana, Kang, sebentar lagi lebaran.)

Jawab Kang Tenggar: “Biasa mawon, nggih nek bodo wanci rodo terjamin. He he he.” (Biasa saja kok, hanya kalau lebaran memang lumayan terjamin).

Jawaban yang biasa, lugas, dan sederhana. Sekejap percakapan, yang sekilas tidak ada apa-apa. Namun, ada kata “terjamin”. Satu kata itu yang kemudian sungguh-sungguh membikin saya malu. Bahkan malu yang menampar dengan kerasnya. Saking malunya, saat merenungkan sendiri kata-kata Kang Tenggar, mata sempat berkaca-kaca.

Ada apa dengan kata “terjamin” ?

Saya paham yang dimaksud Kang Tenggar. Yaitu terjamin rejekinya, bisa mengentengkan beban yang ditanggung adiknya sekeluarga. Karena pada saat lebaran, dari beberapa panitia pengumpul zakat, Kang Tenggar memang masuk daftar nomer satu dalam pembagian zakat.

Semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia, Kang Tenggar ikut adiknya perempuan yang sudah menikah. Suami adiknya (adik ipar Kang Tenggar) biasa mencari penghasilan menjadi buruh bangunan. Itu kalau ada kerjaan. Jika sedang tidak ada yang mengajak bekerja, kadang membuat arang kayu atau menjual kayu bakar. Penghasilannya memang tipis, untuk menanggung satu keluarga dengan dua anak yang sudah SMP, ditambah menanggung Kang Tenggar.

Adik perempuan Kang Tenggar sendiri menjadi buruh tani. Hasil yang paling terasa, ya setahun sekali tiap panen padi, mendapat satu atau dua karung gabah, yang kemudian digiling menjadi beras.
Sekedar info saja, menanam padi di sini hanya bisa di tegalan tadah hujan, jadi panen hanya sekali dalam satu tahun.
Di keluarga adik perempuan dengan kondisi apa adanya itu Kang Tenggar tinggal.

Sebenarnya Kang Tenggar punya kakak laki-laki. Tapi sudah merantau ke Sumatera. Entah dimana. Keluarga Kang Tenggar pun tidak tahu alamatnya. Sudah sekitar 15 tahun tidak memberi kabar berita. Juga tidak ada yang tahu tepatnya merantau di Sumatera bagian mana.

Keahlian Kang Tenggar cuma satu, yaitu membuat anyaman bambu menjadi dinding. Kalau di sini namanya gedek. Hanya saja sekarang sudah sepi tidak ada yang pesan ke Kang Tenggar. Karena hampir semua rumah sudah berdinding tembok bata. Paling tinggal rumah adik Kang Tenggar saja yang berdinding bambu. Itupun sudah kotangan, istilah kami. Separo tembok bagian bawah, sebelah atasnya dinding bambu atau kayu.
Sehingga Kang Tenggar sebenar-benar tidak mempunyai penghasilan. Kebutuhan hidup Kang Tenggar, penuh ditanggung oleh adiknya.

Di situlah rasa malu saya demikian besarnya. Sungguh memalukan. Kang Tenggar bilang, lumayan terjamin di hari Lebaran. Lalu bagaimana jika di luar hari lebaran?
Apakah Kang Tenggar harus menunggu setahun sekali tiap Idul Fitri untuk “lumayan terjamin”? Artinya, apakah di luar Lebaran, hidup Kang Tenggar kurang terjamin?

Saya sendiri bertetangga dengan Kang Tenggar berjarak sekitar tiga RT. Di desa saya rumah lumayan berjauhan. Bisa diperbandingkan luas wilayah satu RT di sini sama dengan tiga atau mungkin lima RT di kota Jogja.

Yang jelas, pernyataan Kang Tenggar “lumayan terjamin” di hari lebaran, sungguh sangat bikin saya malu. Malu pada diri saya sendiri, dan malu kepada Tuhan. Dimana rasa kepedulian yang selama ini hilang? Apakah kepedulian hanya ada di hari lebaran?

Untuk menutupi rasa malu, saya bertekad mencarikan penghasilan untuk Kang Tenggar, di luar hari lebaran, dengan keahliannya membuat anyaman bambu. Agar terangnya lebaran bagi Kang Tenggar, juga terang di hari-hari selain lebaran. Sehingga Kang Tenggar tidak lagi begitu menjadi beban bagi keluarga adik perempuannya.
Untuk menutupi rasa malu juga, jika menyempatkan bersedekah, akan saya berikan untuk Kang Tenggar. Semoga terlaksana.

Dan semoga juga Kang Tenggar bisa merasakan terang dalam gelapnya. Karena Kang Tenggar sejak lahir memang sudah buta, tidak bisa melihat, alias tuna netra. Bersabarlah, Kang Tenggar.

(Sampai postingan ini terbit, belum sempat mengambil foto Kang Tenggar, untuk dipakai sebagai ilustrasi.)

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: