Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Dimyat Aa Dym

Seorang guru dan pendidik di sekolah yang telah mengabdikan dedikasinya untuk tunas-tunas bangsa lebih dari selengkapnya

3 Syarat Pemuda dan Kepahlawanannya: Iman, Hijrah, Jihad

OPINI | 05 November 2013 | 19:09 Dibaca: 343   Komentar: 0   1

13836532331040357294

Kegiatan Guru Gugus 4 Tambun Selatan, Sekolah Sebagai Lembaga Yang Memproduk Pemuda (Dok. Pribadi)

Hijrah bagi umat islam dan sebagian besar penduduk bangsa ini selalu hadir memberikan arti, energi dan inspirasi. Tak terkecuali tahun baru hijriyah yang baru saja dilalui kali ini yang sudah memasuki tahun ke 1435 H. Meski tidak sama dengan cara masyarakat memperingati atau menyambut tahun baru masehi, seperti dengan pesta kembang api atau sebagainya, tetapi cara masyarakat dalam menyambut tahun baru hijriyah ini lebih beragam, namun tetap penuh arti serta memperhatikan koridor-koridor syar’i.

Pawai obor, Ceramah Siraman Rohani, malam muhasabah atau MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) atau sejenisnya adalah contoh yang ada di masyarakat dalam memperingati dan menyambut malam tahun baru Islam atau hijriyah. Nampak kita ketahui bahwa dalam islam muamalah atau kegiatan untuk menyambut tahun baru Islam lebih mementingkan makna substansinya dibandingkan ritualnya seperti pesta kembang api atau kegiatan sejenisnya.

Selain ada kaidah atau koridor syar’I yang membatasi juga karena jangan sampai perayaan tahun baru hijriyah itu menyimpang dari makna iman dan syukur nikmat itu sendiri. Makanya perayaan tahun baru islam tidak boleh bersifat mubazir (sia-sia) baik mubazir dari sisi harta, uang atau waktu. Perayaan atau peringatan tahun baru islam yang dimulai titik tolak perhitungannya dari peristiwa hijrahnya nabi Muahmmad SAW syarat dengan makna terutama dalam membentuk pribadi yang bersih, peduli dan berkarakter.

Sifat-sifat kepahlawanan yang terkandung dalam peristiwa hijran sangat mewarnai sejarah perjuangan nabi dan umat islam di berbagai belahan negeri dan bumi islam sampai saat ini. Indikatornya adalah keimanan, hijrah itu sendiri serta perjuangan atau jihad hakiki dalam menjalankan hidup dan mengemban amanah selaku hamba Allah, pemimpin dan pemakmur bumi. Bagaimana hijrah memberikan arti pada perjuangan nabi ketika beliau di Makkah, lalu mereka hijrah ke Madinah, sampai pada akhirnya mampu menaklukan kota Makkah atau Futuh Makkah.

Sehingga kata “hijrah” selalu digandengkan dengan kata “jihad” serta diawali lebih dulu dengan kata “iman” seperti yang tertulis dalam firman Allah surat At-Taubah (9) ayat 20 :

“Orang-orang yang BERIMAN dan BERHIJRAH serta BERJIHAD di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.”

Begitu juga dalam hadits nabi Muahmmad SAW kata hijrah disebutkan oleh beliau terkait dengan peristiwa futuh (Penaklukan) Makkah “ La Hijrota Ba’da Fathi “ Tidak ada hijrah setelah futuh Makkah, yang ada adalah hijrah secara maknawi yakni “Al-Muhajiru Man Hajaro Ma Nahallah” orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari apa-apa yang dilarang oleh Allah SWT.

Dengan demikian maka pesan hijrah adalah pesan yang syarat dengan pesan-pesan kepahlawanan, perjuangan atau jihad serta ketawaan yang berkesinambungan sampai akhir hayat kita. Itulah sebabnya kita selalu diingatkan dengan firman Allah dalam surat Al-Hasyr (59) ayat 18 :

“Wahai orang-orang yang beriman ! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat). Dan Bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Beruntung kita umat Islam, bangsa ini dan manusia pada umunya jika ada umat yang berupaya menyelamatkan mereka dari bahaya dan azab dunia dan azab akhirat. Lalu kita ditawarkan atau diberikan pilihan untuk menuju kepada suatu jalan hidup (Agama Islam) yang akan menyelamatkan kita baik di dunia maupun sampai akhirat kelak nanti. Semoga kita termasuk golongan orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalanNya.

Untuk mencapai nilai-nilai kepahlawanan yang akan kita peringati nanti pada tanggal 10 November 2013 nanti maka kita sudah diingatkan dengan tahun baru Hijriyah kali ini yakni 1 Muharram 1435 H yang jatuh pada 5 November 2013, setelah sebelumnya kita diingatkan untuk menyeleamatkan generasi muda dan remaja kita termasuk para pelajarnya sebagai tunas bangsa, masa depan agama bangsa dan negara dengan peringatan sumpah pemuda 28 Oktober 2013 yang sudah belalu beberapa hari saja.

Kalau kita perhatikan para pahlawan nasional kita zaman penjajahan dan zaman kemerdekaan dulu, maupun kebutuhan untuk zaman seperti sekarang ini, perjuangan meraka pun tidak lepas dari cita-cita perjuangan suci dan mulia, untuk apalagi mereka berjuangan selain untuk mempertahankan Iman, Hijrah dan Jihad mereka sesuai dengan keyakinan agama mereka masing-masing dan cita-cita mulia dalam hidup berbangsa, beragama dan bernegara di Negara Kesatuan Republik yang tercinta ini.

Itulah tiga syarat pemuda dan kepahlawanannya semoga memasuki era pembangunan fisik dan psikis bangsa akan lahir pemuda yang memiliki karakteristik seperti disebutkan di atas sebagaimana diwahyukan Allah kepada nabi Muhammad SAW tentang karakteristik Pemuda Kahfi atau Pemuda penghuni Gua yang terkenal dengan kisah perjuangan dan kepahlawanannya seperti dikisahkan dalam surat Al-Kahfi (18) ayat 13 :

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka. Dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka”.

Wallahu a’lam.

Selamat tahun baru islam 1 Muharram 1435 H. dan Hari Pahlawan 10 November 2013 M.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mereka Meninggalkan Ego demi Kesehatan …

Mohamad Nurfahmi Bu... | | 31 October 2014 | 00:51

Rokok Elektronik, Solusi Stop Merokok yang …

Gaganawati | | 31 October 2014 | 01:19

Profit Samsung Anjlok 73,9%, Apple Naik …

Didik Djunaedi | | 31 October 2014 | 07:17

Ihwal Pornografi dan Debat Kusir Sesudahnya …

Sugiyanto Hadi | | 31 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 10 jam lalu

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 11 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 13 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: