Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Dina Oktaviana

music addict, esspecialy pop-jazz. love journalism. @dinaaoktaviana

Pelajaran hidup dibalik sebuah novel Moga Bunda Disayang Allah

OPINI | 23 August 2013 | 15:19 Dibaca: 251   Komentar: 1   0

Pelajaran hidup memang bisa didapat darimana saja, tak terkecuali didalam sebuah novel. Iyaaaa dan kali ini saya akan memberikan review dari novel Moga Bunda Disayang Allah ciptaan salah satu penulis laris di Indonesia, Tere-Liye.

Baru-baru inipun novel ini dibuat film nya oleh sutradara Indenesia Jose Poernomo. Terlepas dari banyak pro dan kontra yang ada di masyarakat tentang penggarapan film ini, saya saat ini lebih tertarik untuk mengulas bahwa sebenarnya banyak makna yang bisa digali dari novel ini.

Jika kita melihat trailer film ini, maka pertama kali kalian akan disuguhkan dengan narasi yang cukup “menggelitik” di telinga. Narasi yang disampaikan serasa pernah dialami dikehidupan nyata, khususnya bagi kita yang sering berkeluh-kesah pada Tuhan.

“Apakah harapan itu ada? jika iya, terlalu muluk-kah kami mengharapkannya?. Dan demi Allah, apakah hidup itu adil?, dimanakah letak keadilannya?”
Isi dari novel secara keseluruhan memang dibuat sama dengan filmnya, hanya saja di film nya ada beberapa kejadian yang tidak dijelaskan, namun tetap tidak mengurangi estetika dari cerita itu sendiri.

Novel karya Tere Liye ini memang memiliki cerita yang sangat sederhana, namun sekali lagi memiliki makna yang sangat mendalam jika “diresapi”. Bercerita tentang kisah seorang anak perempuan bernama Melati yang bisu, tuli, dan buta. yang berusaha untuk kembali mengenal orang tua, khususnya bunda dan Tuhannya, setelah sekian lama hidup dalam kegelapan dan kesunyian dunia. Awalnya Melati adalah anak yang normal seperti anak-anak lainnya, namun saat ia tengah berlibur di pantai bersama orang tauanya, ia mengalami kecelakaan. Sejak saat itulah hidup Melati berubah menjadi suram 180derajad. Orang tua nya pun sudah melakukan berbagai macam pengobatan, demi menyembuhkan putri “semata wayangnya” itu, namun apa hendak dikata, Melati tak kunjung sembuh, bahkan tak ada perkembangan sedikitpun tentang kondisi Melati. Sampai diokter yang menanganinya pun menganggap Melati gila, tentu saja karna Melati sering berteriak-teriak, dan bahkan makan dengan tidak sewajarnya orang waras.

Singkat cerita, orang tua Melati meminta pertolongan oleh Karang. Seorang pemuda yang awalnya selalu membawa keceriaan anak-anak disekitarnya, dan sangat mencintai anak-anak. Namun semua berubah ketika Karang yang saat itu mengajak anak-anak sebanyak 18 orang untuk berwisata air, namun terjadi sebuah kecelakaan di laut. Karang pun tak berhasil menyelamatkan salah satu dari mereka, tak terkecuali Qintan. Dia adalah salah satu murud yang amat sangat dicintai oleh Karang. Dan kejadian inilah yang akhirnya membuat karang menjadi berubah 180 derajad.

Dalam kalimat ini dapat ditarik hikmahnya bukan?. Siapapun yang ingin keluar dari belenggu atau maslah hidup di dunia, bahkan tentang impian hidupnya, maka hanya dirinya sendirilah yang dapat mengubahnya.  Tentu saja dengan segala upaya dan doa didalamnya yang dilakukan secara beriringan.

Dalam novel ini benar-benar dijabarkan bagaimana perjuangan Melati untuk dapat sembuh dari penyakit yang membelenggunya saat itu. Bagaimana perjuangan Karang menjadi manusia baik kembali. Serta bagaimana perjuangan Bunda untuk memberikan semangat pada Melati.

“Keinginannya lah yang membuatnya bisa berlari! Aku hanya bercerita tentang banyak hal yang membuatnya mengerti tentang makna berusaha, proses belajar dan mimpi” yah dari kata-kata ini dapat ditarik kesimpulan kalau dengan usaha semua yang tak mungkin akan memeiliki kesempatan berubah menjadi mungkin, bukan?

Novel ini benar-benar mengisnpirasi saya pribadi dan mungkin ribuan orang diluar sana yg telah membaca novel atau menonton film nya.

Kata-kata super hebat yang ditulis pengarang di dalam novel ini yang seolah “menampar” kita bagaimana kebaikan Tuhan yang diberikan pada kita, yang terkadang kita acuhkan dan tidak disadari:

“Terima Kasih, Ya Tuhan!
Mungkin kami tidak akan pernah mengerti dimana letak keadilanmu dalam hidup. Karena mungkin kami terlalu bebal untuk mengerti, terlalu Bodoh!.
Tapi kami tahu satu hal, malam ini kami meyakini satu hal, engkau sungguh bermurah hati. Engkau maha pemurah atas seluruh hidup dan kehidupan.”
Twitter: @dinaaoktaviana

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 13 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Tentang Peringatan di Dinding Kereta …

Setiyo Bardono | 7 jam lalu

Musik Adalah Hidup …

Nitami Adistya Putr... | 7 jam lalu

Dilema Struktur Kabinet …

Yanuar Nurcholis Ma... | 7 jam lalu

Untuk Anak-anakku di Negeri Hijrah …

Gayatri Shima | 8 jam lalu

Pengalihan Subsidi BBM …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: