Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Serunya bermain “Benteng-bentengan” Ceritaku di Kota Pasuruan Jawa Timur

OPINI | 12 July 2013 | 10:03 Dibaca: 456   Komentar: 6   2

Permainan tradisional masa kecil saya di waktu menduduki Sekolah Dasar, yaitu benteng-bentengan. Ketika ditanya permainan masa kecilmu apa? saya teringat kembali masa-masa itu dimana permainan tradisional masih disukai masyarakat. Beda dengan jaman sekarang dimana ana-anak kecil sudah melupakan permainan tradisional itu, jaman sekarang teknologi lebih berarti dari pada sekedar bermain diluar rumah, bercanda bersama teman-teman seusia dan berbagi strategi dengan teman-teman, anak-anak jaman sekarang lebih cenderung diam, sibuk dengan teknologinya, terasa cuek dengan lingkungan sekitar. Pasuruan kota kecil terletak di Provinsi Jawa Timur, pada saat itu saya masih SD kelas 4, jam istirahat saya gunakan bermain dengan teman-teman. Benteng-bentengan permainan yang seru, ketika jam istirahat berbunyi. Seketika itu kami satu kelas berteriak bersama, betapa bahagia waktu itu ketika mendengar bel istirahat berbunyi. Semua rasa suntuk di kelas, guru yang kejam saat mengajar, hilang sudah, yang ada tertawa kegembiraan menyambut istirahat tiba.

Saya mencoba berlari keluar kelas dengan perasaan senang, melebarkan senyum selebar mungkin, artinya bermain dimulai. SD yang saya masukin bernama SD Pekuncen di Kota Pasuruan, bangga rasanya saya bisa masuk sana, SD favorite di sana. SD tersebut di tahun itu terdapat 3 kelas yaitu kelas A,B dan C. Ketika bel berbunyi serentak saya dan teman-teman mengunjungi kelas 4A dan 4C. Saya kelas 4B, pada waktu itu kelas 4A dan 4C bermusuhan dengan kelas 4B karena kami selalu menang dalam bermain. Dan permainan kali ini kelas 4A bekerjasama dengan kelas 4C untuk mengalahkan kelas kami yaitu 4B. Permainan akan dimulai, tugas saya pertama kali mencari tempat buat markas. Benteng-bentengan permainan tradisional yang terdiri dari 2 orang atau lebih, mempunyai markas untuk pertahanan, markas dapat berupa tiang ataupun tempat yang disepakati berupa markas.

Permainannyapun cukup mudah, beberapa orang wajib menjaga markas atau di sebut “benteng” dengan tidak melepas tangan di markas tersebut, ketika seseorang melepaskan tangan dengan markas maka orang tersebut harus maju untuk berjuang dengan tujuan merebut markas lawan agar menang. Pasukan yang maju akan menangkap lawan dengan tujuan mengurangi jumlah pertahanan markas, dan lawan yang sudah kena akan di bawa ke markas kita untuk menjadi tahanan. Permainannya lucu dan unik, disini dilatih bagaimana cara kita berstrategi mencapai tujuan, bagaimana bekerjasama. Ketika saya dan teman-teman bermain benteng-bentengan, saya melihat teman saya menyusup ke arah markas lawan dan lawan tidak menyadari itu. Benteng-bentengan merupakan permainan favorite kami, kita bermain waktu itu untuk mempertaruhkan nama satu kelas,  waktu itu permainan benteng-bentengan adalah permainan dengan anggota terbanyak karena kami bermain dengan anggota 1 kelas, dan musuh kelas 4B adalah dua kelas. Persiapan sudah selesai, dan sekarang waktunya bermain, kelas  4A dan 4C berlomba-lomba menyerang kearah markas kami, ada seorang teman saya bernama Doni yang menyusup secara tiba-tiba ke markas lawan, saya melihat itu dan diam saja, saya berpikir bagus juga taktik Doni, saya serius mempertahankan markas kami. Tiba-tiba terdengar suara teriakan benteeeeeng, yaah teriakan itu menandakan keberhasilan kami, dan ternyata teman penyusup saya berhasil merebut markas lawan, kemudian disusul dengan teriakan dari kelas 4B, horeee kita menang.

Ketika kemenangan pertama, saya langsung semangat untuk babak yang kedua, harus menang lagi, teman saya bernama Meisya berkata “rek, ayo kita menangkan lagi”, kata rek di sini merupakan kata julukan bagi orang-orang di Pasuruan, budaya Jawa Timur yang biasa disebut “arek” merupakan panggilan akrab bagi kami. Meisya mempunyai pendapat jangan sampai kalah karena saya melihat strategi lawan mulai bersemangat untuk mengalahkan kelas kami. Saya mulai menyerang, selang beberapa menit ternyata saya menjadi tawanan, sayapun marah, saya berteriak minta bantuan teman saya. Ternyata pertahanan kelas 4A dan 4C kuat, lebih solid dari sebelumnya. Saling menyerang diantara kedua kubu masih berlanjut dan semakin seru, wah kelas 4B mulai emosi. Mereka saling menyerang dengan sekuat tenaga, serangan tersebut untuk membebaskan saya dan teman-teman yang mulai tertahan juga untuk merebut markas musuh. Ade teman saya, berusaha membebaskan saya, dan berhasil. Sayapun berlarian kembali ke markas, saya bersemangat untuk mengalahkan musuh dan mencari anggota kelas 4A atau 4C untuk saya tahan. Berlari sekuat tenaga, akhirnya dapat tahanan satu. Saya senang sekali, saya mencoba menyusup dari belakang, saya berjalan menyusup pelan-pelan, dengan langkah kaki yang kecil mencoba mendekati markas lawan, ketika itu saya ketakutan, takut ditangkap musuh.

Tekad, hal itu yang membuat rasa takut saya waktu itu berkurang, saya melanjutkan langkah kecil saya. Markaspun dekat didepan mata, tangan saya mendekatkan ke markas dan akhirnya dapat. Saya berteriak kencang, benteeng, yah saya berhasil merebutnya. Lagi-lagi kelas kami menang, kami bersorak gembira. Setelah itu bel pelajaran berbunyi, kami semua bersiap menuju kelas masing-masing,meskipun kelas 4A dan 4C masuk kelas dengan muka masam, mereka masuk kelas dengan menerima kekalahan permainan dan mereka berusaha bertindak sportif atas kekalahannya. Sedangkan kami kelas 4B masuk kelas dengan bernyanyi, saya juga bernyanyi, hati saya senang bisa merebut markas lawan, teman-teman juga senang karena dapat mengalahkan musuh untuk yang kesekian kalinya. Kegembiraan tersebut tidak hanya terjadi didalam permainan saja, tetapi di dalam kelas dan tugas kelompok yang diberikan guru, kami menerima dengan senang hati.

Permainan yang kami sebut benteng-bentengan membuat kami semakin kompak, kami lebih mengerti artinya persahabatan, mempertahankan teman, menyelamatkan teman dan yang paling penting kami dilatih untuk sportif dalam setiap tindakan. Saya senang ketika mengingat kejadian itu, permainan tradisional yang telah pudar saat ini haruslah dibangkitkan lagi. Karena dengan bermain permainan tradisional, dapat meningkatkan kepekaan kita terhadap lingkungan, menjadikan manusia yang mudah bersosialisasi, tidak egois dan yang paling penting dapat melestarikan budaya Indonesia bersama Indonesia Travel.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 15 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 16 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 19 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 20 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 15 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 15 jam lalu

Cinta dalam Botol …

Gunawan Wibisono | 15 jam lalu

Wisata Bahari dengan Hotel Terapung …

Akhmad Sujadi | 15 jam lalu

Jurus Jitu Agar Tidak Terjadi Migrasi dari …

Thamrin Dahlan | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: