Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Akbar Pitopang

Pitopang Ever After | Jangan lihat siapa awak, tapi lihatlah apa yang awak tulis | selengkapnya

Arahkan Anak Memilih Jurusan yang Tepat

HL | 21 June 2013 | 15:33 Dibaca: 734   Komentar: 33   13

13718290242080964569

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Siswa-siswa SMA sederajat saat ini tengah disibukkan dengan agenda untuk masuk ke perguruan tinggi bagi yang berniat melanjutkan studinya. Beberapa hari yang lewat SBMPTN juga sudah dilakukan. Berbarengan dengan itu, calon mahasiswa yang diterima lewat jalur undangan juga sudah mulai melakukan registrasi di kampus seperti yang terlihat beberapa hari yang lalu.

Diantara calon mahasiswa tersebut ada yang sudah mantap dan yakin dengan jurusan yang dipilih dan akan dijalani ke depannya selama masa studi. Namun banyak juga diantara mereka yang masih ragu dan bimbang. Banyak yang memilih jurusan yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Banyak yang memilih karena ikut-ikutan tren di kalangan teman-temannya. Bahkan tak sedikit dari calon mahasiswa itu memilih jurusan karena keterpaksaan, dipaksa oleh orang tua, keluarga, lingkungan maupun karena faktor lain yang musti harus dimaklumi.

Dalam hal memilih jurusan ini seharusnya diserahkan sepenuhnya kepada anak. Jangan paksa anak untuk mengambil jurusan yang disukai atau diinginkan oleh orang tua misalnya. Karena yang akan menjalani semua itu adalah anak, bukan orang tua.

Lalu bagaimana jika anak belum yakin dan ragu dengan jurusan yang akan dipilihnya? Banyak anak yang mengalami hal demikian. Karena pada masa ini anak masih belajar menentukan pilihannya yang tepat. Tak semua anak bisa memilih mana yang terbaik.

Saya dulu juga demikian. Pada masa itu saya termasuk anak yang belum mampu memilih pilihan yang benar-benar terbaik. Pengalaman ini terjadi saat masa memilih jurusan di kelas XI waktu di SMA. Sebenarnya saya sangat tertarik dengan jurusan Ilmu Alam (IA). Ketika di kelas X, mata pelajaran prasyarat untuk masuk IA cukup baik terutama mata pelajaran biologi. Sampai-sampai guru biologi merekomendasikan dan sangat berharap sekali saya bisa masuk IA. Saya juga juara 1 saat itu. Tak aka nada yang menghalangi saya untuk masuk IA sebenarnya. Hanya ada satu halangan, yakni sebuah pertimbangan yang dilandasi oleh ketakutan dan kekhawatiran.

Saya sudah berkonsultasi dengan kakak saya dan beliau sangat menginginkan saya masuk IA. Tentu ia tahu bagaimana kondisinya dan ia juga punya pengalaman karena lulusan sekolah favorit di kota saya. Orang tua juga merestui saya untuk masuk IA. Hanya saja orang tua saya termasuk jenis orang tua yang moderat dan sangat terbuka jadi mereka menyerahkan sepenuhnya kepada saya. Mereka tak memaksa dan tidak kecewa dengan pilihan-pilihan yang akan saya ambil nantinya.

Namun karena itulah saya menjadi ‘tersesat’. Saya malah tidak jadi memilih IA. Namun ikut memilih sebuah jurusan karena banyak teman-teman saya dari kelas yang sama di kelas X yang memilih jurusan tersebut. Akhirnya saya ikut-ikutan memilihnya. Padahal saya sebenarnya saat itu masih cukup plin-plan dan bingung mana yang terbaik.

Kenapa tidak memilih IA? Yaaa, karena saya merasa kurang baik di beberapa mata pelajaran yang nantinya di-UN-kan. Saya takut nantinya gagal dan tentu hal itu sangat memalukan sekali. Padahal belum tentu nanti akan seperti itu kan.. Namun kekhawatiran dan ketakutan sudah menyerang saya sejak awal langkah.

Akhirnya saya memilih jurusan itu. Saya coba-coba semoga saya bisa enjoy disana. Karena saya termasuk anak yang rajin belajar saat itu akhirnya karena usaha dan kesungguhan, di semester pertama setelah memilih jurusan itu, saya malah dapat juara 2. Akhirnya saya merelakan memilih jurusan itu. Toh sama saja kan.. Nantinya pasti ada jalan lain lagi. Hanya seperti itu yang saat itu saya pikirkan.

Namun permasalan lain terjadi ketika lulus SMA. Karena jurusan yang dipilih, saya tidak bisa masuk ke perguruan tinggi yang disana menawarkan jurusan-jurusan yang sangat saya inginkan. Karena jurusan yang saya pilih itu, maka hal itu tidak memungkinkan lagi. Saya harus memilih jurusan yang sesuai dengan jurusan di SMA. Dan kini semua itu sudah terjadi. Saya tidak terlalu menyesal walaupun tentu perasaan itu ada. Buktinya saya tetap menjalaninya dengan cukup baik hingga saat ini.

Orang tua saya yang moderat, terbuka dan baik hati sudah sedari awal menyerahkan semuanya kepada saya. Tugas mereka hanya mengiringi langkah saya dan menyediakan dana penunjang agar apa yang sudah dipilih bisa berjalan dengan baik. Namun walau demikian, tetap masih ada sisa-sisa rasa penyesalan yang kadang membuat saya kurang termotivasi untuk belajar sehingga menjadi malas dan kurang bersungguh-sungguh. Kreatifitas yang tersimpan di otak menjadi kurang tereksplorasi dengan baik. Karena ketidak sesuaian antara jurusan yang sudah dipilih dengan minat dan motivasi yang dimiliki.

http://dreamlandaulah.files.wordpress.com/2010/06/students.jpg

http://dreamlandaulah.files.wordpress.com/2010/06/students.jpg

Belajar dari pengalaman saya ini, selayaknya langkah terbaik yang harus dilakukan oleh para orang tua saat anak memilih jurusan adalah mengarahkan dengan seksama. Perhatikan kondisi anak seperti apa. Termasuk jenis anak seperti apa yang dimiliki oleh orang tua. Jika di usia yang masih dibilang labil itu anak sudah terbiasa dan pandai dalam menentukan jurusan yang terbaik didahului oleh pertimbangan yang matang pula maka orang tua bisa menyerahkan seutuhnya pada anak. Namun jika anak belum mampu dan sering plin-plan maka orang tua harus mengarahkannya. Perhatikan bakat dan potensi yang Selama ini dimiliki oleh anak. Utarakan peluang-peluang yang bisa membuat anak termotivasi lalu setelah itu biarkan tetap anak yang memilih. Sekali lagi jangan paksa anak dalam hal ini. Biarkan anak belajar memilih dan belajar mempertanggung jawabkan apa yang sudah ditentukannya. Bedakan antara mengarahkan dengan memaksakan!

Yang juga perlu dilakukan antara anak dan orang tua adalah membangun komunikasi yang baik. Dengan adanya hubungan baik itu maka anak akan dengan mudah menentukan jurusan yang terbaik untuknya juga terbaik untuk orang tua dan keluarga yang tentunya pasti berharap banyak pada sang anak.

Memilih jurusan yang terbaik itu memang sangat susah dan tidak gampang. Namun belajar memilih yang tepat mungkin akan jauh lebih baik… ^_^

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keluarga Pejabat dan Visa Haji Non Kuota …

Rumahkayu | | 30 September 2014 | 19:11

Me-“Judicial Review” Buku Kurikulum …

Khoeri Abdul Muid | | 29 September 2014 | 22:27

Spongebob dalam Benak Saya …

Ire Rosana Ullail | | 30 September 2014 | 16:48

Sepak Bola Indonesia Kini Jadi Lumbung Gol …

Arief Firhanusa | | 30 September 2014 | 15:58

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 9 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 11 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 14 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Smartphone dan Pribadi Boros Energi …

Dian Savitri | 8 jam lalu

Gerakan Indonesia Menulis; Mencari Nilai …

Rendra Manaba | 8 jam lalu

Pegawai BRI Beraksi Bak Debt Collector …

Rusmin Sopian | 8 jam lalu

Tradisi dan Teknologi …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Pisah Sambut Kejari Singaparna …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: