Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Dedi Zulkarnain Pratama

Menekuni bidang tulis menulis sejak di perkuliahan dan berharap semoga setiap goresan pena bermanfaat bagi selengkapnya

“KPK” Versi Mahasiswa

REP | 20 May 2013 | 09:55 Dibaca: 310   Komentar: 0   0

Kelompok Program Kreatifitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M) yang lolos pendanaan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) salah satunya adalah kelompok yang berasal dari program studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Brawijaya (UB). Kelompok yang menamai dirinya sebagai “Tim KPK” yang merupakan singkatan dari Kartu Pemberantasan Korupsi ini mengambil lokasi pengabdian di SDN Kauman 1 Kota Malang. Tim KPK ini beranggotakan 5 (lima) orang, yakni Dedi Zulkarnain Pratama, Ira Permata Sari, Diernita Milliarvi, Mochammad Rifqi Maheswara, dan Emy Ratnawati. Tim ini mengusung tema dan gerakan pengabdian masyarakat tentang anti korupsi.

Setelah lolos dari seleksi pendanaan oleh Dikti, tim “KPK” mulai bergerak menyusun rangkaian acara pengabdian masyarakat yang dimulai dari pemaparan tentang anti korupsi bagi sasaran program tersebut. Pemaparan materi tentang anti korupsi meliputi bahaya korupsi, contoh korupsi yang sederhana ala anak SD yang dijelaskan dengan menarik oleh Restu Karlina Rahayu, S.IP., M.Si selaku pemateri yang juga menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Ilmu Pemerintan FISIP UB. Rangkaian acara ini termasuk juga sosialisasi sekaligus pembelajaran penggunaan kartu unggulan tim “KPK” dalam menanamkan jiwa anti korupsi bagi siswa-siswa SD sejak usia dini. “Ada tiga jenis kartu KPK yang kami desain dengan unik agar dapat dimainkan oleh anak-anak SD dengan sederhana dan mendapat manfaat dari kartu ini” jelas Dedi yang juga menjabat sebagai Ketua Tim KPK. Pada kegiatan sosialisasi, anak-anak SD yang terdiri dari kelas 3, 4 dan 5 ini sangat aktif dan kritis dalam memaknai korupsi yang dirangkai dalam permainan KPK ini.

Desain tiga jenis permainan KPK tersebut juga bukan tanpa alasan. Artinya, tiga jenis permainan KPK itu memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, sehingga sasaran KPK ini akan menjadi tepat dan memperoleh manfaatnya. Selain itu, kegiatan setelah pemaparan dan sosialisasi adalah monitoring yang dimaksudkan untuk mengetahui apakah sasaran KPK ini terus menggunakan KPK untuk bermain pada saat istirahat dan adanya perubahan perilaku dari siswa-siswi SD tersebut. Monitoring yang dilakukan selama satu minggu ternyata membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. “Siswa kami selalu setiap istirahat meminta kartu KPK untuk dimainkan dan ada beberapa siswa yang saling mengingatkan temannya untuk tidak mencontek dan berbohong karena anggapan mereka itu adalah korupsi” terang Kartini yang menjabat sebagai Kepala SDN Kauman 1 Kota Malang ini. Setelah melalui proses monitoring, Tim KPK kemudian merancang kegiatan penutupan pengabdian masyarakat tentang anti korupsi ini. Kegiatan penutupan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 Mei 2013 ini dimanfaatkan sebagai ajang lomba bagi siswa yang mengikuti program pengabdian masyarakat ini. “Kami mengadakan tiga mata lomba, yakni lomba baca puisi bagi kelas 3, lomba desain poster bagi kelas 4, dan lomba story telling bagi kelas 5 yang semuanya bertemakan tentang anti korupsi”, papar Ira yang bertanggungjawab sebagai koordinator acara.

Seluruh rangkaian acara yang dilakukan oleh Tim KPK mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah dan seluruhnya pun berjalan dengan lancar tanpa ada kendala yang berarti. Hal yang paling penting adalah capaian tujuan yang cukup berhasil dicapai. Kesuksesan penyelenggaraan PKM KPK ini juga tidak terlepas dari bimbingan dan binaan dari Laboratorium Pemerintah dan Perencanaan Daerah (ELPPEDA), secara khusus ELPPEDA Community. Selain PKM KPK yang bergerak dalam bidang pengabdian masyarakat, ELPPEDA Community juga melakukan pembinaan pada beberapa PKM lainnya yang bergerak dalam bidang kewirausahaan. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi ELPPEDA khususnya dan Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Brawijaya pada umumnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | | 25 October 2014 | 06:48

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 12 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sejarah Munculnya Lagu Bunuh Diri Dari …

Raditya Rizky | 8 jam lalu

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 9 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: