Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Febrian Arham

alumni DIII STAN' 04, (harusnya) DIV STAN' 08

Jaman Dulu, Seks Usia Sekolah Hanya Dilakukan Oleh Siswa-siswi Populer

REP | 19 May 2013 | 19:31 Dibaca: 2015   Komentar: 0   0

Maharani Suciyono merupakan salah satu bekas siswi yang mengupdate pengalaman seksnya pada tingkat “berbayar” di masa kuliahnya zaman sekarang. Dengan jumlah kelas menengah yang semakin banyak di Indonesia, bahkan termasuk yang tertinggi di dunia dan diperkirakan mempengaruhi tingkat pengambil keputusan dunia di masa yang akan datang, latar belakang seks usia muda pada jaman sekarang, jika jaman sekarang diperhitungkan sebagai satu decade derakhir, di Indonesia adalah beda dengan jaman dulu, atau setidaknya 1-2 dekade sebelum sekarang.

Jaman dulu disparitas pendapatan antar kelas adalah cukup signifikan.

Seks pada usia sekolah terjadi hanya pada mereka yang terlibat dalam lingkup pergaulan populer, atau sebaliknya hanya dilakukan oleh kelas miskin, dengan tingkat keinginan bebas (free will) yang rendah.

Jaman sekarang, dengan persaingan yang ketat, seks bebas pada usia sekolah tidak hanya dilakukan oleh mereka yang populer. Kesempatan untuk mengungguli satu dengan lainnya adalah cukup terbuka, sementara motivasi komunal intra generasi semakin kuat.

Jaman dulu seks hanya mampu dilakukan oleh mereka yang memiliki keunggulan absolute, baik given maupun yang diusahakan, dengan indicator-indikator seperti kaya, benar-benar tampan/cantik,  berkuasa dalam organisasi social-politik sekolah, OSIS, pintar akademis, hebat dalam olahraga yang populer ketika itu, seperti basket, serta nakalnya lebih menonjol dibanding siswa lain.

Mereka yang populer itulah yang mampu pacaran, dan berkesempatan melakukan hubungan seks sebelum masanya di masa usia sekolah.

Saat ini dengan jendela informasi yang sangat terbuka, dengan internet, dengan demokrasi dan sensor yang lemah atas kebudayaan apapun yang terlihat baru, siswa biasa-biasa pun dapat pacaran, dan melakukan seks dengan pacarnya dengan tanpa ada perhatian serius atas generasi pengambil keputusan untuk dapat direpresi.

Dengan ideologi nilai benar-salah institusi moral yang semakin kabur, seks bukan sesuatu yang tabu lagi untuk dilakukan oleh “manusia” usia sekolah zaman sekarang.

Kelas yang kurang beruntung, seperti kelas miskin, melakukan seks dengan menikah lebih dini pada jaman dulu dengan pertukaran mereka yang kaya tapi beda generasi.

Kelas miskin jaman sekarang, dalam konteks pendakian kelas dengan pilihan dan cara yang lebih banyak, kepada kelas yang lebih menengah, melakukan seks, tanpa harus berkomitmen pada lembaga perkawinan.

Dan Ayam kampus telah ada sejak zaman dahulu ( 2 dekade sebelum decade saat ini) sebagai kasus, bukan sebagai fenomena yang jamak terjadi seperti sekarang. Dengan latar belakang kelas serta kenyataan yang terdapat padanya sesuai dengan pesan yang diberitakan di media, Maharani Suciyono bukanlah orang yang mampu menjadi populer pada usia sekolah dengan indicator jaman dulu untuk melakukan seks usia sekolah seperti yang terjadi pada decade sekarang.

Dengan publikasi mengenai keperawanan, yang mengejutkan oleh Komisi Perlindungan Anak beberapa waktu lalu yang menyebutkan dominannya anak perempuan usia sekolah yang tidak perawan, pendakian sosial yang tersebutkan seperti di atas, utamanya berita mengenai pengembangan nilai rasa dari budaya asing, seperti cinta dan kebebasan usia muda/usia sekolah, memiliki terjemahan yang semakin luas pada disparitas pendapatan dan informasi kelas yang semakin kecil saat ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 5 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 7 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Daffa (2thn) Atlit Cilik Taekwondo …

Muhammad Samin | 7 jam lalu

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | 8 jam lalu

Anak Muda Haruskah Dipaksa? …

Majawati Oen | 8 jam lalu

Gigi berlubang Pada Balita …

Max Andrew Ohandi | 8 jam lalu

Sosialisasi Khas Warung Kopi …

Ade Novit | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: