Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Buruank

dengan sayap ini ku terbang mengelilingi alam, untuk menikmati dan merasakan indahnya dunia, kan selalu selengkapnya

Punk dan Nasionalisme

OPINI | 10 May 2013 | 20:37 Dibaca: 524   Komentar: 8   0

Public United Nothing Kingdom atau yang lebih dikenal dengan singkatan PUNK adalah sebuah nama untuksebuah gerakan yang berasal dari Inggris pada era enam puluhan. Gerakan yang pada awalnya mewakili pemberontakan masyarakat kelas bawah dalam menentang semua peraturan kerajaan yang tidak berpihak kepada mereka dengan gaya hidup dan cara mereka sendiri. Namun itu hanya sedikit cerita lama, karena punk telah berubah dan berkembang seiring perubahan zaman.

Punk memang berasal dari Inggris namun mulai menampakkan wujudnya di amerika pada era delapan puluhan. Saat itu menjadi momen kebangkitan kaum muda amerika untuk menentang semua hal yang menurut mereka tidak sesuai dan merugikan masyarakat. Banyaknya korupsi serta masalah sosial lain di lingkungan masyarakat amerika kala itu. Berbagai cara dilakukan untuk melakukan aksi agar didengar dan dilihat dunia, mulai musik dan kesenian lainnya, hingga gaya hidup.

Punk berbicara tentang kebebasan berfikir dan bertindak, dengan kata lain mau mandiri dan menjadi diri sendiri. Do It Your self itulah semangat yang dijunjung tinggi kaum punk sampai sekarang dimanapun mereka berada. Karena mereka menganggap sebuah kemandirian adalah harga mati untuk bisa bertahan menjalani kehidupan. Semua aksi diwujudkan dengan cara mereka sendiri, sesuai dengan potensi yang dimiliki. Banyak cara-cara kreatif dan inovatif yang dilakukan agar memperoleh perhatian, bukan hanya berteriak kosong tanpa melakukan apa- apa.

Melalui musik, punk menemukan kendaraan untuk semakin mendunia. Ada banyak musisi beraliran punk, dengan berkarya suka-suka meneriakan semangat juang dan menyindir apa saja yang tidak sesuai. Mereka tidak takut karya nya tidak dilirik label rekaman besar, karena mereka mampu memproduksi dan memasarkan karya mereka. Semua hal dikerjakan sendiri, tidak tergantung sponsor dan donator. Mereka berdiri didalam komunitas-komunitas yang membuat mereka besar dan melakukan kegiatan yang menghasilkan agar mampu untuk berbuat banyak.

Kalau hanya melihat dari penampilan dan pola hidup, mohawk, piercing, anting, tato dan celana jeans ketat bukan lagi identitas punk. Sebab itu sudah menjadi milik dunia mode dan fashion. Banyak dari kaum kapitalis yang memakai mode itu saat ini, sedangkan punk menolak kemapanan dan kapitalisme.

Sebab kaum kapitalis adalah kaum pemalas dan tidak kreatif, karena menganggap semuanya bisa dibeli dengan uang yang mereka miliki, sementara punk sangat bertolak belakang dengan hal itu. Kaum punk adalah manusia pekerja keras yang mau berusaha untuk mewujudkan semua yang menjadi mimpinya dengan tangannya sendiri. Menjadi diri sendiri untuk bisa dihargai, dan mau bangkit mandiri untuk membangun tatanan dunia yang lebih adil dan beradab.

Lalu sekarang di Indonesia, bagaimana mungkin kita mengganggap semua orang-orang dijalanan adalah kaum punk. Apa yang telah mereka lakukan, dan apa yang mereka teriakan? Apakah sesuai dengan yang terjadi dengan lingkungan dan kondisi dinegara kita? Sementara ini adalah Indonesia, bukan Inggris ataupun Amerika, kita hidup di Negara yang penuh keberagaman. Katanya mereka adalah kaum yang “termarsinahkan”, siapa yang telah “memarsianhkan” mereka? Bukankah mereka sendiri?

Sebab mereka tidak lebih dari sekawanan anak jalanan yang mengaku-ngaku sebagai punk. Bagaimana mungkin mereka bisa dianggap punk kalau mereka taunya hanya meminta-meninta tanpa melakukan apapun. Punk tidak cukup hanya dengan penampilan.

Hebohnya penampilan harus diiringi dengan hebohnya pemikiran, itulah prinsip dasar generasi awal punk. Bukan dengan melakukan tindakkan kriminal dan bersorak-sorak tanpa berbuat. Wajar berteriak kalau melakukan perbuatan baik, namun masih ditekan, ditindas dan disudutkan. Barulah pantas untuk mengaku dizalimi atau dengan kata lain di marjinalkan dan dimarsinahkan.

Seharusnya dengan memilih hidup menjadi seorang punk kita bisa menjadi diri sendiri dengan berdiri diatas kaki sendiri dalam menantang kerasnya dunia. Mengapa harus menjadi orang lain atau bangsa lain disaat telah memilih menjadi seorang punk, bukankah orang-orang dari bangsa lain itu bangga dengan budaya dan Negara mereka sendiri. Harusnya kita bisa lebih belajar dan memahami apa itu punk.

Dengan menjadi punk berarti kita harus menjadi seorang nasionalis, karena punk memberikan kita kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Mencintai tanah tumpah darah dimana kita dilahirkan dan dibesarkan. Bangkit mandiri untuk kemajuan Negara yang dicintai, bagaimanpun caranya

Tidak harus menjadi dan meniru kaum punk dinegara lain, kita harus berani tampil jadi diri sendiri bukan copy paste. Tampil dengan semua kelebihan yang ada pada diri serta Negara kita. Sebuah pepatah mengatakan lain lubuk lain ikannya, dan lain padang lain pula ilalangnya . Punk adalah sebuah ideologi fleksibel yang bisa disesuaikan dengan kebudayaan dan kondisi negara tempatnya berkembang. Punk juga tidak bertentangan dengan agama, karena kita juga membutuhkan kebebasan dan kemandirian untuk menjalankan ibadah sesuai kepercayaan masing-masing.

Pemberontakan itu tidak harus dengan aksi turun kejalan dan melakukan tindakan yang tidak berguna, lebih baik memikirkan dan bekerja untuk sesuatu yang lebih berguna bagi diri dan sesama. Membangun dan mengembangkan setiap potensi diri sesuai dengan keinginan, menggunakan segenap kemampuan yang dimiliki untuk berbuat yang terbaik bagi lingkungan dan Negara.

Tidak terpaku dengan bantuan orang lain agar bisa dihargai, tapi berbuat dan melakukan hal positif untuk bisa dihormati. Karena hidup itu butuh tujuh puluh lima persen tindakan dan dua puluh lima persen kata-kata, barulah semua keinginan bisa diwujudkan. Bukan dengan hidup menggelandang dijalanan seperti orang yang putus asa dengan meminta belas kasihan untuk bertahan hidup.

**100513**

Sarang @burunk #Minangkabau West Sumatera

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 12 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 16 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 16 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 17 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: