Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Ariyani Na

Hidup tidak selalu harus sesuai dengan yang kita inginkan ... Follow me on twitter : @Ariyani12

Pernikahan Dini

OPINI | 23 March 2013 | 12:01 Dibaca: 1542   Komentar: 0   5

Pernikahan dini, dini berarti terlalu awal, seperti petani bawang yang buru-buru memanen bawangnya saat harga bawang masih tinggi walau bawang belum siap panen.

Pernikahan dini berarti pernikahan yang terlalu cepat dilakukan dimana kondisi pasangan belum siap secara materi maupun mental.

Ada banyak sebab pernikahan dini, dan sebab terbesar adalah karena “kecelakaan” atau hamil terlebih dulu.
Selain itu bisa karena dijodohkan oleh orang tua atau bisa juga faktor lingkungan.

Faktor lingkungan yang saya maksud adalah kondisi masyarakat setempat yang sudah terbiasa menikahkan anaknya saat umur belasan, biasanya ada di lingkungan pedesaaan dimana pendidikan tidak menjadi perhatian penting, lulus Sekolah Dasar biasanya sudah dianggap layak untuk segera menikah.

BKKBN mencatat bahwa usia menikah yang ideal untuk wanita adalah 20 - 35 dan 25 - 40 untuk pria, karena pada usia tersebut seseorang sudah dianggap siap untuk menikah baik secara psikologis maupun kesehatan reproduksi.

Dengan adanya patokan usia ideal untuk menikah, maka pernikahan dini yang akan saya bahas disini adalah pernikahan di bawah usia tersebut atau tepatnya usia remaja, yaitu sebuah masa peralihan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Pada masa tersebut, seseorang masih berada pada tahap perkembangan mental yang belum matang, tidak stabil dan rentan dipengaruhi kondisi lingkungan.

Meskipun kedewasaan seseorang tidak dapat diukur berdasarkan usia, namun bila kita melihat kondisi psikologis remaja diatas, maka menikah diusia remaja akan lebih rentan menghadapi konflik yang berdampak pada perceraian. Hal ini disebabkan karena :

1. Ketidaksiapan secara mental untuk menghadapi masalah-masalah rumah tangga seperti kesulitan keuangan untuk biaya rumah tangga, anak sakit atau hal-hal kecil dalam rumah tangga yang sering kali menjadi besar karena keduanya belum dapat mengendalikan emosi

2. Ketidaksiapan materi yang pada akhirnya akan membebani orang tua untuk membantu biaya hidup rumah tangga. Dan turut campurnya orang tua dalam urusan rumah tangga seringkali juga menjadi penyebab timbulnya konflik pada pasangan muda ini.

Menikah merupakan bersatunya dua individu dalam sebuah komitmen untuk hidup bersama, sehingga sebelum memutuskan untuk menikah keduanya perlu sama-sama memahami tujuan menikah dan sudah menyiapkan diri baik secara mental maupun materi dengan sebaik-baiknya.


Diposting untuk memenuhi Tema Mudasiana minggu ini

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 9 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 12 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 13 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi & The Magnificent-7 of IndONEsia …

Sam Arnold | 8 jam lalu

Diperlakukan-Dikerjain-Anda Bagaimana? …

Astokodatu | 8 jam lalu

Pelajaran dari Polemik Masril Koto …

Novaly Rushans | 8 jam lalu

Kemana Hilangnya Lagu Anak-anak? …

Annisa Ayu Berliani | 9 jam lalu

[Nangkring Cantik] Cantik itu harusnya luar …

Bunda Ai | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: