Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Ariyani Na

Hidup tidak selalu harus sesuai dengan yang kita inginkan ... Follow me on twitter : @Ariyani12

Pernikahan Dini

OPINI | 23 March 2013 | 12:01 Dibaca: 1430   Komentar: 0   5

Pernikahan dini, dini berarti terlalu awal, seperti petani bawang yang buru-buru memanen bawangnya saat harga bawang masih tinggi walau bawang belum siap panen.

Pernikahan dini berarti pernikahan yang terlalu cepat dilakukan dimana kondisi pasangan belum siap secara materi maupun mental.

Ada banyak sebab pernikahan dini, dan sebab terbesar adalah karena “kecelakaan” atau hamil terlebih dulu.
Selain itu bisa karena dijodohkan oleh orang tua atau bisa juga faktor lingkungan.

Faktor lingkungan yang saya maksud adalah kondisi masyarakat setempat yang sudah terbiasa menikahkan anaknya saat umur belasan, biasanya ada di lingkungan pedesaaan dimana pendidikan tidak menjadi perhatian penting, lulus Sekolah Dasar biasanya sudah dianggap layak untuk segera menikah.

BKKBN mencatat bahwa usia menikah yang ideal untuk wanita adalah 20 - 35 dan 25 - 40 untuk pria, karena pada usia tersebut seseorang sudah dianggap siap untuk menikah baik secara psikologis maupun kesehatan reproduksi.

Dengan adanya patokan usia ideal untuk menikah, maka pernikahan dini yang akan saya bahas disini adalah pernikahan di bawah usia tersebut atau tepatnya usia remaja, yaitu sebuah masa peralihan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Pada masa tersebut, seseorang masih berada pada tahap perkembangan mental yang belum matang, tidak stabil dan rentan dipengaruhi kondisi lingkungan.

Meskipun kedewasaan seseorang tidak dapat diukur berdasarkan usia, namun bila kita melihat kondisi psikologis remaja diatas, maka menikah diusia remaja akan lebih rentan menghadapi konflik yang berdampak pada perceraian. Hal ini disebabkan karena :

1. Ketidaksiapan secara mental untuk menghadapi masalah-masalah rumah tangga seperti kesulitan keuangan untuk biaya rumah tangga, anak sakit atau hal-hal kecil dalam rumah tangga yang sering kali menjadi besar karena keduanya belum dapat mengendalikan emosi

2. Ketidaksiapan materi yang pada akhirnya akan membebani orang tua untuk membantu biaya hidup rumah tangga. Dan turut campurnya orang tua dalam urusan rumah tangga seringkali juga menjadi penyebab timbulnya konflik pada pasangan muda ini.

Menikah merupakan bersatunya dua individu dalam sebuah komitmen untuk hidup bersama, sehingga sebelum memutuskan untuk menikah keduanya perlu sama-sama memahami tujuan menikah dan sudah menyiapkan diri baik secara mental maupun materi dengan sebaik-baiknya.


Diposting untuk memenuhi Tema Mudasiana minggu ini

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 17 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 19 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 20 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 21 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: