Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Cici Suci Maulina

"Jangan pernah lelah mencoba, karena hakikatnya malaikat di kanan-kiri pundakmu senantiasa menghitung setiap cucuran tetes selengkapnya

Niat Mulia yang Salah #Dalam Kegalauan UKT

REP | 09 March 2013 | 16:33 Dibaca: 1116   Komentar: 0   1

Tahun 2013 adalah tahun bergejolak bagi perkembangan sistem pendidikan tinggi di negara ini. Setelah gembar gembor masalah issue UUPT yang berpihak pada asing,  liberalisasi pendidikan, dan beberapa pasal bermasalah lainnnya, kini kita dihadapkan pada issue UKT – program yang diberlakukan sebagai implementasi dari salah satu pasal UUPT yang sampai saat ini seru untuk dikaji dan digali lagi seberapa besar dampak baik ataupun dampak buruk bagi setiap elemen masyarakat, baik bagi mahasiswa, orang tua/ masyarakat yang membiayai anak anaknya kuliah, bagi perguruan tinggi, dan bagi para politisi serta pemangku kebijakan. Apakah UKT atau kepanjangan dari Uang Kuliah Tunggal ini layak untuk diterapkan di tahun ajaran 2013 ini?

Seperti halnya hukum fisika yang mengatakan bahwa setiap aksi pasti ada reaksi. Begitu juga dengan UKT ini.  Tak ada asap jika tak ada api, tak ada peristiwa jika tak ada hal yang melatar belakangi. Sebelum berbicara jauh mengenai UKT, alangkah baiknya kita mengetahui apa yang menjadi latar belakang di programkannya UKT ini.

Sebenarnya tujuan adanya UKT ini sangat mulia. Menteri pendidikan nasional yang membawahi DIKTI menilai bahwa uang masuk kuliah yang dibayarkan pada masa mahasiswa baru/ uang pangkal dinilai terlalu mahal dan memberatkan mahasiswa. Oleh karenanya mereka menghapus biaya masuk ini dengan 2 hal penting yang kemudian menjadi kelanjutannya, yaitu:

-          Menghapus uang pangkal

-          Menerapkan UKT

Dalam proses penerapan UKT, sudah ada 4 surat edaran mengenai UKT kepada perguruan tinggi. Surat edaran pertama dan kedua yang berisi gertakan untuk penerapan program UKT pada tahun ajaran 2012 dan ternyata tidak digubris oleh kebanyakan perguruan tinggi, hingga kemudian beredar surat edaran ketiga dan keempat yang berisi ancaman agar UKT dilaksanakan pada tahun 2013 ini. Di awal tahun 2013 Dirjen Dikti, Direktur Litabmas dan Ditlembag kembali teribitkan 3 Surat Edaran yaitu:

  1. 0394 /E5.2/PL/2013 Edaran Direktur Litabmas : Pengelolaan BOPTN untuk Penelitian Tahun 2013 bersama Lampiran
  2. 978/E.E2.2/KL/2013 Edaran Direktur Kelembagaan dan Kerja Sama Dikti, ke Seluruh Pengusul Usulan Pendirian dan Perubahan Bentuk Perguruan Tinggi di Seluruh Indonesia
  3. 97/E/KU/2013: Edaran Dirjen Dikti tentang Uang Kuliah Tunggal yang berisi Permintaan Dirjen Dikti kepada Pimpinan PTN untuk menghapus uang pangkal dan melaksanakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa baru program S1 reguler.
  4. Surat Edaran Dirjen Dikti No. 305/E/T/2012 tanggal 21 Feb 2012 tentang Larangan Menaikkan Tarif Uang Kuliah
  5. Surat Edaran Dirjen Dikti nomor 488/E/T/2012 tanggal 21 Maret 2012 tentang Tarif Uang Kuliah SPP di Perguruan Tinggi
  6. Surat Edaran Dirjen Dikti 274/E/T/2012 bertanggal 16 Februari 2012 tentang Uang Kuliah Tunggal
  7. Surat Edaran Dirjen Dikti No. 21/E/T/2012 tanggal 4 Januari 2012 tentang Uang Kuliah Tunggal

Mengapa UKT menjadi polemik akhir akhir ini? Sebenarnya ada apa dengan UKT?

Penerapan UKT ini sesuai dengan tujuan awalnya, sebenarnya sangat mulia, yaitu untuk meringankan biaya masuk bagi mahasiswa baru perguruan tinggi dan menghindari pungutan liar. Akan tetapi setelah dihitung hitung dari tafsiran biaya UKT dan biaya non UKT, dilihat dari biaya yang harus dikeluarkan per semseter selama 8 semester/ 4 tahun dengan tidak memperhatikan jumlah SKS yang diambil, tentunya malah lebih mahal UKT.

“Jika uang pangkal dihapus, PTN tidak perlu takut kekurangan dana, sebab setiap PTN mendapat BOPTN (semacam BOS kalau di SD/SMP). BOPTN adalah singkatan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri).” Dana BOPTN ini selalu meningkat setiap tahun dan nilainya cukup besar. Jika kita mengacu pada BOPTN yang diturunkan tiap tahun, di tahun 2012 BOPTN yang turun adalah sebesar 1,4 triliun dan di tahun 2013 meningkat menjadi 2,7 triliun rupiah. Khusus di UGM tahun 2012 mendapat BOPTN sebesar 90 milyard dan tahun 2013 ini mendapat 170 milyard. Lalu apa masalahnya?

Ternyata pencairan uang BOPTN ini tidak selancar yang dikira. BOPTN turun terlambat bahkan bisa turun di akhir tahun dengan pertanggung jawaban selama sebulan. Bagaimana mungkin selama sebulan bertanggung jawab atas uang sebanyak itu?? Kenapa uang BOPTN ini tidak turun di awal tahun dan pertanggungjawabkan di akhir tahun? Inilah kendala utama tetap mahalnya biaya pendidikan. Logikanya BOPTN yang digunakan untuk proses pengerjaan sejumlah bangunan/ gedung akan menjadi terhambat. Dan BOPTN akan menjadi alat untuk penyeimbang, dan instruktur kontrol finansial terutama spp mahasiswa tidak semena-mena dinaikkan. Jadi salah satu hal utama mahal tidaknya biaya pendidikan adalah lama cepatnya BOPTN turun ke pihak PT.

Sisi positif dari UKT ini adalah mengurangi kecurangan pada proses administrasi dan mempermudah mahasiswa dan para orang tua dengan cukup membayar satu macam biaya saja tanpa ada rincian biaya yang lain, seperti halnya SPP, uang sumbangan, uang laboratorium, dan pembiayaan sarana maupun prasarana lain, serta menuntut mahasiswa agar lulus dengan cepat, karena jika mereka terlambat lulus, maka uang kuliah akan semakin membengakak

Akan tetapi sisi negatifnya pun harus dipikirkan bersama, apakah sudah adil dengan adanya program UKT?

Oke .. fine kalau tahun ini beasiswa bidikmisi akan dinaikkan kuotanya.. tapi bagaimana dengan mahasiswa yang tidak kaya kaya banget tapi juga tidak miskin miskin banget dan tidak pintar pintar banget, tapi juga tidak bodoh bodoh banget?? Sepertinya jenis mahasiswa semacam ini banyak ditemui di universitas universitas dan inilah yang dirugikan jika UKT diberlakukan. Antara mahasiswa mampu/ sangat kaya raya yang harusnya membayar kuliah lebih tinggi di banding mahasiswa sederhana ini, malah membayar biaya yang setara jumlahnya. Mana keadilannya??

—– Diakhir kata, quotes yang selalu teringat: “mencerdaskan kehidupan bangsa” dengan tidak memahalkan biaya pendidikan… :)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wahana Baru Ice Age Arctic Adventure, Dufan …

Rokhmah Nurhayati S... | | 19 April 2014 | 01:35

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Araira …

Fandi Sido | | 16 March 2014 | 19:39

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 9 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 11 jam lalu

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 21 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: