Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Hsu

Somewhere Only We Know; Hsu = Hatiku Satu Untukmu

Bangkitlah! Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

OPINI | 26 February 2013 | 07:35 Dibaca: 2280   Komentar: 0   17

gambar dari media.tumblr.com

gambar dari media.tumblr.com

Jatuh itu Sakit!

Jatuh secara langsung ataupun perlahan akan berujung pada rasa sakit. Rasa sakit yang terkadang membuat kita terlena, membenci, kesal dan yang terparah adalah kita lupa akan sebuah kata yaitu “Bangkit”

Ya, Bangkitlah jika kau terjatuh!.

Bangkit secara langsung ataupun perlahan sesuai dengan kemampuan kita. Anggaplah kejatuhan itu sebagai pelecut kebangkitan ke arah yang lebih baik. Seekor Kuda penarik pedati tak akan berlari bila tidak di pecut. Jika Kuda itu bisa berbicara atau bahkan berteriak, mungkin akan berkata “Aduh Sakit Tuanku!”  Setiap kali Kuda itu dipecut, ia akan berlari, semakin dipecut akan semakin kencang berlari… berlari dan maju tanpa pernah berkata atau membenci Sang Kusir yang memecutnya.

Sebuah kata bijak pernah tertuliskan oleh Tere Liye, yaitu :

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.” (Tere Liye, dikutip dari goodreads.com)

Tak Membenci akan kejatuhan. Membenci penyebab kejatuhan adalah sia-sia, sebab faktanya kita telah Jatuh. Rasa benci yang malah akan semakin membenamkan kejatuhan kita ke lubang yang lebih dalam. Ketika orang lain sudah selangkah atau dua langkah bangkit, kita masih saja berkutat dengan kebencian akan kejatuhan kita. Sia-sia.

Mengikhlaskan semuanya yang menjadi penyebab kejatuhan kita. Ketika menerima kejatuhan dengan ikhlas berarti kita menerima kekurangan dalam diri kita sendiri. Dengan menerima kekurangan yang ada dalam diri maka kita bisa mengisi kekurangan itu baik dari dalam diri maupun dari luar diri dengan hal-hal positif. Sesuatu yang kurang bisa ditambahkan. Ketika penambahan kekurangan itu mencapai maksimal bahkan tumpah, maka itulah waktunya kita berbagi kepada yang masih merasa kekurangan. Sebuah derma dan darma akan tersajikan. Mulia.

Saya pernah jatuh!

Saya katakan sekali lagi bahwa saya pernah jatuh!

Jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam… dan bahkan hina di mata siapapun.

Apakah saya langsung dapat bangkit?

Saya jawab tidak. Saya butuh proses dan waktu.

Belajar menerima rasa sakit yang mungkin tak di alami oleh banyak orang. Rasa sakit secara fisik yang luar biasa dan juga rasa sakit karena batin yang mengerang.

Bagaimana saya bangkit dari itu semua?

Hal pertama yang saya lakukan waktu itu adalah bangun pagi dan membersihkan diri. Hal yang terus berlaku hingga beberapa waktu… walaupun waktu-waktu itu tak langsung dapat bangkit.

Setelah beberapa waktu setelah bangun pagi dan membersihkan diri, hal ke-2 yang saya lakukan adalah berjalan beberapa langkah untuk kemudian kembali. Demikian terus hingga beberapa waktu hingga jaraknya lumayan jauh.

Hingga satu waktu saya melihat hal yang seperti tersajikan pada gambar berikut ini:

bayi belajar berdiri (sayacomel.com)

Hal seperti pada gambar di atas inilah yang menjadi titik penting dalam kebangkitan saya. Saya berjalan hingga ke sebuah pemukiman dan melihat seorang bayi yang sedang belajar bangkit untuk mulai berdiri dan berjalan.

Seorang bayi yang saya saksikan begitu gigih untuk bangkit dan bangkit tanpa mempedulikan berapa kali ia terjatuh ketika akan memulai untuk bangkit.

Seorang bayi di depan mata saya. Terekam di dalam benak dan ingatan saya, lalu bercermin. Ia bayi dan saya seorang dewasa. Jika dibandingkan dari sisi manapun secara fisik sudah pasti lebih kuat saya berkali-kali lipat.

Saya Malu!

Itulah point terpenting dalam kebangkitan saya, walaupun tertatih saya mulai bangkit.

Jika anda pernah jatuh, maka janganlah terlena, janganlah membenci, dan yang terpenting Janganlah lupa dengan sebuah kata, yaitu Bangkit.

Bangkitlah! kemudian Berbagilah.

Salam,

~Su He~

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melukis Malam di Bawah Lansekap Cakrawala …

Dhanang Dhave | | 21 October 2014 | 13:50

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | | 21 October 2014 | 11:59

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | | 21 October 2014 | 10:02

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 5 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 8 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 11 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Angin Kencang, Ini Teknik Menyetir …

Sultan As-sidiq | 7 jam lalu

Golkar Jeli Memilih Komisi di DPR …

Hendra Budiman | 8 jam lalu

Rekor MURI Jokowi …

Agus Oloan | 8 jam lalu

Cerpenku: Perempuan Berkerudung Jingga …

Dewi Sumardi | 8 jam lalu

Kecurangan Pihak Bank dan Airline Dalam …

Octavia Eka | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: