Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Mengapa Pilih Jurusan Ilmu Hukum

REP | 24 February 2013 | 07:50 Dibaca: 11242   Komentar: 7   1

Kini saya adalah seorang sarjana hukum dan bergelut dalam bidang profesi advokat atau pengacara. Dulu, semasa SMA semester genap seperti saat ini, saya termasuk siswa yang agak kebingungan menentukan apa ya jurusan studi perguruan tinggi yang akan dipilih. Ada pergulatan batin saat itu.

Dua hal yang saya lakukan untuk menentukan secara tepat jurusan program studi di perguruan tinggi yang akan saya pilih dan ikuti tes masuknya. Pertama, saya merenung tentang apa bakat dan minat saya selama ini dan, kedua, saya melakukan riset tentang peluang kerja dari jurusan yang saya minati tersebut.

Dari renungan (juga bertanya pada teman-teman) tersebut tibalah pada satu kesimpulan, bahwa saya adalah tipe orang yang cukup kompleks: senang berorganisasi, berbicara, berpikir, memecahkan masalah, petualangan alam, menikmati buku dan menulis.

Jurusan apa yang cocok untuk tipe orang seperti saya itu? Saya menetapkan empat jurusan studi pilihan: ilmu politik, ilmu hukum, manajemen, dan sastra. Namun setelah saya riset, ilmu politik dan ilmu hukum sebenarnya seperti daging dan tulang, maka saya kerucutkan lagi pilihan dengan menyisihkan ilmu politik.

Saya kembalikan pola berpikir ke arah lebih praktis dan pragmatis, bahwa tujuan dari sekolah pada akhirnya adalah terjun ke masyarakat dan bekerja untuk mencari uang sembari menyalurkan minat. Jadi boleh muluk-muluk tapi tetap harus membumi.

Saya riset melalui buku-buku dan buletin panduan di perpustakaan dan toko buku, tentang peluang kerja apa saja dari jurusan-jurusan yang saya pilih itu. Dari tiga jurusan terpilih itu jurusan apa yang paling luas peluang kerjanya?

Dari riset kecil-kecilan tersebut saya jadi tahu bahwa sarjana hukum memiliki peluang kerja yang amat luas. Profesi klasik yang hanya bisa dimasukki oleh sarjana hukum adalah: hakim, jaksa, notaris, dan pengacara. Di samping itu, hampir semua badan pemerintah dan swasta memiliki bagian hukum atau personalia yang biasanya diisi oleh sarjana hukum. Jadi sangat luas sekali peluang kerjanya. Bisa pilih kerja profesional sebagai swasta (notaris atau pengacara) atau pegawai negeri dan swasta.

Maka, saya menyimpulkan pilihan akhir jatuh pada satu jurusan: ilmu hukum. Nah, bagaimana strateginya supaya bisa lulus tes masuk jurusan ilmu hukum? Gampang sekali. Jika melalui jalur PMDK maka pilih saja jurusan itu sebagai jurusan utama. Namun saya masuk perguruan tinggi waktu itu melalui jalur tes UMPTN.

Karena saya jurusan IPS dan memiliki dua pilihan jurusan studi dalam tes UMPTN, strategi supaya ilmu hukum yang diterima (lulus) adalah sebagai berikut. Ilmu Manajemen saya jadikan pilihan nomor pertama. Namun jurusan manajemen ini saya tempatkan di perguruan tinggi yang lebih difavoritkan dibandingkan ilmu hukum. Tujuannya, supaya ilmu hukum yang diterima.

Berbeda halnya jika jurusan studi perguruan tinggi dengan level yang sama maka peluang lulusnya jadi 50:50 (lebih kecil). Atau, jika salah menempatkan pilihan minat utama (ilmu hukum) dijadikan pilihan utama pada perguruan tinggi yang lebih favorit dibandingkan pilihan perguruan tinggi ilmu manajemen, bisa-bisa justru ilmu manajemen yang lulus. Ya, memang, ada unsur gamblingnya juga.

Waktu itu saya pilih Ilmu Manajemen di Universitas Sumatera Utara (USU) dan Ilmu Hukum di Universitas Andalas (Unand). Benar saja! Saya akhirnya diterima di jurusan Ilmu Hukum Unand, Padang. Hm, Padang sebuah kota yang indah (tempat wisata alam bejibun) dan kampus terbesar dan megah di Asia Tenggara! Saya yang dari daerah (Bengkulu) sangat menikmati merantau di kota ini.

Bisa diduga saya sangat menikmati kuliah di jurusan Ilmu Hukum karena sesuai dengan bakat dan minat selama ini. Tak terasa kuliah empat tahun selesai dan saya diwisuda sebagai salah satu lulusan terbaik dari jurusan. Setamat kuliah, saya berpetualang sebentar cari pengalaman, baru kemudian fokus magang pengacara sampai kemudian dilantik sebagai pengacara hingga saat ini.

(SP)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jebakan Batman di Museum Antonio Blanco …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 06:17

Bu Dokter, Anak Saya Kena Bangka Babi …

Avis | | 22 December 2014 | 07:05

Refleksi Hari Ibu; Dilema Peran Ibu di Era …

Agus Purwadi Umm | | 22 December 2014 | 02:24

Perbaiki Sikap Berkendaraan agar Hemat BBM …

Fajr Muchtar | | 22 December 2014 | 06:22

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 11 jam lalu

Waspada Komplotan Penipu Mengaku dari …

Fey Down | 12 jam lalu

Dear, Bapak Jonru… …

Wagiman Rahardjo | 13 jam lalu

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: