Back to Kompasiana
Artikel

Muda

‘Surat Inspirasi’ dari Anies Baswedan

REP | 19 February 2013 | 23:26 Dibaca: 1404   Komentar: 2   2

Sabtu, 9 Februari lalu, adalah pertama kalinya aku melihat Anies Baswedan dari jarak dekat. Juga mendengar suaranya dengan jelas, yang nampak jauh lebih memikat dari yang beberapa kali kudengar di televisi. Kata-katanya umpama kalimat-kalimat romantis surat cinta yang sangat memikat. Bukan hanya aku yang terpaku dan menitikkan airmata, sebab disekelilingku duduk lebih dari 600 orang yang sama terpesona oleh sosoknya. Aku dan ratusan orang itu adalah calon relawan guru yang akan mengajar di ‘Kelas Inspirasi’ untuk wilayah Jakarta pada tanggal 20 Februari, juga para Kepala Sekolah yang siap menerima kami menjajal kemampuan berbagi inspirasi pada murid-murid kecil calon pemimpin masa depan.

“Pendidikan adalah tugas orang terdidik. Saya percaya anda semua bisa mendidik bangsa ini karena anda adalah orang-orang terdidik. (Anies Baswedan, 9 Februari 2013, 14.00 wib)

Di kelas itu, kami tidak akan mengajar selayaknya para guru mengajarkan aneka mata pelajaran sebagaimana saat aku SD dulu. Namun, kami akan menjadi jembatan bagi mereka untuk mulai menuliskan mimpi, menjaga mimpi-mimpi itu dengan semangat belajar dan kerja keras agar kelak mereka bisa mewujudkannya. Malam ini aku sungguh gugup. Esok, akan jadi pengalaman pertamaku mengajar di kelas yang seluruh muridnya adalah anak kecil, kelas 2-4. Ah, semakin aku berimajinasi tentang apa yang akan kulakukan pertama kali saat masuk kelas, aku semakin gugup.

136129089613427774
Briefing Kelas Inspirasi. Jakarta, 9 Februari 2013 (dok. Pribadi)

Di kelas itu, aku harus membuat anak-anak tertarik padaku. Lalu, aku harus menceritakan siapa aku, bekerja sebagai apa aku, apa makna pekerjaanku bagi masyarakat dan apa yang akan terjadi jika tidak ada pekerjaan seperti yang kulakukan? Aku harus menjadikan proses yang kujalani untuk sampai pada mimpi-mimpiku sebagai inspirasi bagi mereka. Inilah yang disebut menabung. Di kelas itu, pokoknya aku harus menebar bibit, bibit mimpi pada anak-anaka kecil itu, yang akan membangun Indonesia 20 tahun mendatang. Dalam studi di kelas-kelas ilmu kesejateraan sosial, ekonomi maupun pemberdayaan, secara sederhana hal ini disebut Modal Sosial.

Malam ini, aku mendapat email dari Anies Baswedan. Ya, email yang pastinya diterima secara berjamaah oleh sekitar 600 orang calon guru, videografer dan photografer yang akan menginspirasi SD-SD negeri di Jakarta. Jikalah inspirasi itu berwarna merah, maka besok Jakarta akan berwarna merah. Juga 5 kota lain di seluruh Indonesia dengan kegiatan dan semangat yang sama.

Saya menulis surat ini untuk menegaskan apresiasi kita semua atas kesediaan Anda menjadi sumber inspirasi besok.
Saat briefing beberapa waktu yang lalu, kita bertemu dengan begitu banyak teman baru. Besok, saat Anda mendatangi sekolah, boleh jadi Anda merasa belum kenal dekat teman-teman yang bertugas bersama di sekolah itu. Tapi saya yakin bahwa sesungguhnya kita semua sudah sangat saling kenal. Anda dan teman-teman semua yang hadir di SD itu adalah anak-anak negeri yang di hatinya mengakar rasa cinta yg luar biasa kepada Indonesia kita.
Anda menyatakan siap ambil cuti, mau jadi guru sehari. Anda siap untuk repot-repot karena cintanya kepada bangsa ini.

Profesi bisa lain, sektor boleh beda tapi cinta kita kepada bangsa ini sama-sama dalam, tulus dan sepenuh hati. Itulah kesamaan identitas kita semua. Itulah kesamaan para pengajar Kelas Inspirasi ini. Cinta bangsa itulah yang membawa Anda pilih turun tangan, ikut mewarnai masa depan.

Besok Anda akan mengajar. Anda bersiap menyongsong anak-anak SD itu dan mereka pun menanti kedatangan Anda.

Datangi mereka dengan hati dan sepenuh hati. Peragakan cara Anda meraih keberhasilan, tunjukkan bahwa integritas, kompetensi, kerja keras, ketangguhan dan kemandirian adalah resep yang powerful. Izinkan mereka terpana, ajak mereka bermimpi, lepaskan imajinasi itu melangit, biarkan mata mereka berbinar melihat Anda dan mendengar cerita Anda.
Ya, secara fisik Anda cuma beberapa jam di sekolah itu, tetapi inspirasi yang Anda tanamkan bisa hidup amat lama, bisa tumbuh amat kuat. Anda datang dengan hati, dan merekapun akan menerima Anda dengan hati. Kehadiran dengan hati itu sungguh dahsyat efeknya. Anda bisa menginspirasi mereka, yang efeknya amat panjang. Biarkan cerita Anda, wajah Anda, ketulusan Anda dan semangat Anda jadi bagian dari narasi mimpi mereka.

Semoga, suatu saat kelak, mereka jadi seseorang dan bercerita bahwa inspirasinya tumbuh saat Anda, kakak sebangsanya, datang ke sekolahnya. Biarkan mereka menyimpan cerita Anda sebagai bagian dari semangat memenangkan masa depannya.

Anak-anak memang perlu dirangsang untuk menerbangkan mimpinya amat tinggi, lalu lewat kerja keras yang cerdas dan doa yang tulus mereka diajak untuk -bukan cuma meraih mimpi- tapi diajak untuk melampaui mimpinya. Ya, ajaklah mereka untuk melampaui mimpinya…
Anda -dan para guru di SD itu- akan bisa berkata kepada diri sendiri bahwa Anda bukan bagian dari yang menggerogoti bangsa apalagi merusak tatanan masa depan. Anda dan semua guru SD itu adalah bagian dari yang ikut menanamkan bibit masa depan yang lebih baik. Sekecil apapun bibit yang Anda rasa telah ditanamkan, ia bisa tumbuh amat besar dan melampaui dugaan kita.

Selamat bertugas, selamat menanamkan bibit semangat, selamat menumbuhkan mimpi. Pada anak-anak SD itu ada pantulan wajah masa depan Indonesia kita. Besok Anda akan jadi saksi awal dan jadi pewarna atas potret masa depan negeri kita. Di depan ruang kelas itu, setiap menit, setiap gerak dan setiap tutur Anda adalah pewarna masa depan itu. Warnailah masa depan itu dengan kecemerlangan.

Hati mana yang tidak bergetar membaca kata-kata yang penuh makna itu. Kata-katanya bagai senyum manis dan penuh dorongan seorang ayah yang sedang membantu anak-anaknya menerbangkan layang-layang penuh mimpi. Kata-kata yang lebih dahsyat bahkan dari pidato Pak Presiden. Besok, aku harus bisa menginspirasi. Karena sebagai generasi terdidik, aku harus bisa mentransfer apa yang pernah kuraih untuk penerusku. Aku yakin, mewariskan ilmu tidak akan pernah menguras habis apa yang ada didalam kepalaku.

Depok, 19 Februari 2013

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemudik dan Dinamikanya …

Asep Rizal | | 26 July 2014 | 23:55

Kompasianer Dalam Kunjungan Khusus ke Light …

Tjiptadinata Effend... | | 26 July 2014 | 18:13

Susah Move On dari Liburan? Ini Tipsnya..! …

Sahroha Lumbanraja | | 26 July 2014 | 18:08

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Saya Juga Ingin Menggugat Kecurangan Bahasa …

Gustaaf Kusno | | 26 July 2014 | 17:05


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 4 jam lalu

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 7 jam lalu

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 7 jam lalu

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 12 jam lalu

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: