Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Jefri Hidayat

domisili di Sumbar, lajang, 30 tahun. Twitter @jefrineger

Apakah Kisah Cintaku sama dengan Bebi Romeo-Mesya

OPINI | 15 February 2013 | 19:39 Dibaca: 1337   Komentar: 0   0

Sebenarnya saya sudah melupakan kisah manisnya cinta masa lalu. Tapi karena tema Freez Kompasiana tentang “pengalaman berhunbungan jarak jauh” mendorong saya untuk mengeluarkan uneg-uneg yang sudah terpendam tiga tahun silam.

Kisah cinta dimulai saat dikenalkan oleh teman seorang wanita cantik, anggun dan mempesona (menurut saya sich). Saat itu, saya sudah memasuki proses akhir akademis, ngurus skripsi dan menunggu jadwal ujian kompre (akhir). Begitu juga dengan Keke (panggilan asli). Kampus kami berbeda, tapi jarak kos saya dengannya tak begitu jauh. Dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dengan sepeda Motor.

Pasca perkenalan tersebut hubungan kami sangat akrab. Apalagi aku dan dia hanya tinggal menyelesaikan tugas akhir, otomatis banyak waktu yang kami lalu bersama. Jika tidak sibuk dikampus, tak terhitung kali saya menemaninya menemui pembimbing atau sekedar ke pustaka, tak ektinggalan juga membantu pengetikan skripsinya yang hampir deadlock, karena hari wisuda sudah dekat. Begitu juga dengan Keke, jika tidak ada kegiatan dikampusnya, dia akan menelpon minta dijemput dan menemani saya.

Begitulah gambaran kemesraan dan kedekatan kami. Singkat waktu dan tulisan, Alhamdulilah kami diwisuda. Setelah proses wisuda dan penerimaan Ijazah kami harus berpisah, Keke kembali ke daerah asalnya, begitu juga dengan saya. Jarak antara kampong saya dengan lumayan jauh walaupun masih dalam satu provinsi yakni sekitar 400KM.

Persoalan jarak sebenarnya tak jadi masalah. Sebab, kami sering komunikasi lewat telpon, Chating dan media lainnya yang dapat diakses dengan mudah. Kami juga berusaha agar dapat bertemu satu kali dalam sebulan. Agar, hubungan tidak bosan, jenuh dan juga untuk melepaskan kerinduan yang terpendam selama tidak berjumpa.

Semenjak wisuda saya membuka usaha warung internet. Sedangkan Keke menjadi pegawai swasta. Kami sudah berjanji dan sepakat jika diantara kita sudah ada yang mapan maka hubungan dilanjutkan ke jenjang pernikahan.

Waktu berlalu dengan cepat tanpa dapat dihentikan, tak terasa hubungan kami sudah memasuki tiga tahun, dan hampir tidak ada kendala yang berarti yang terjadi diantara kami, komunikasi yang intens dan saling percaya membuat jarak bukanlah suatu kendala.

Akhir 2010 Keke diterima menjadi sebagaiPegawai Negeri Sipil (PNS). Profesi yang menjadi dambaan para Sarjana dan orang tua di negeri ini. Bulan-bulan pertama masih seperti biasa, namun ketika seiring waktu berjalan dia sudah mulai menuntut saya untuk mencari pekerjaan yang dapat menopang masa depan. Walaupun tidak secara terang-terangan, tapi saya dapat menangkap apa yang ia maksud dan fikirkan.

Namun saya selalu member pengertian bahwa banyak profesi yang dapat menopang kebutuhan. Tidak harus, PNS, Pegawai Bank ataupun pekerja kantoran lainnya. Tapi kelihatanya keke tidak dapat menerima. Ia lebih memandang sebuah eksistensi, dia sudah mulai menganggungkan penghormatan dan dia terpengaruh dengan lingkungan dan mindset masyarakat sekarang bahwa pegawai kantoran merupakan profesi yang penuh dengan kebanggan.

Suatu ketika dia menelpon dan mengatakan bahwa dia sudah kepengen menikah, tapi sedapat mungkin dengan orang yang sudah mapan “wanita mana yang tidak pengin bahagia dan senang:”kata-katanya sampai saat ini masih saya ingat.

Itulah telpon terakhir darinya, sayapun tidak berupaya untuk memintanya bersabar menunggu harapan. Karena saya maklum fikiran masyarakat sekarang. Beberapa bulan setelah komunikasi terakhir itu seorang kawan mebertahukan bahwa dia akan menikah dalam waktu dekat, saya hanya tersenyum kecut, tidak berduka, marah bersedih hati. Sebab saya masih percaya bahwa jodoh dan maut adalah kuasa Allah Swt.

Anehnya, walaupun dia sudah menikah saya terus memantau kehidupannya lewat media social Facebook. Walaupun pertemanan sudah saya hapus, tapi saya memakai akun palsu hanya sekedar melihat apa dia bahagia atau tidak. Hanya sebatas itu, tidak pernah mengomentari atau sekedar like this.

Melihat dan membaca postingan dari FBnya itu, saya menduga bahwa dia tidak bahagia. Selain tidak ada dukumentasi pesta pernikahan, juga tidak ada sama sekali photo suami dalam album FB dia. Terasa janggal apabila dibandingkan akun facebook milik kebanyakan orang. Apalagi postingannya sedih melulu, tidak ada gambaran kebahgaian dalam pernikahan yang tertuang lewat tulisan didinding FBnya.

Dugaan saya terbukti benar. Ketika ke Jakarta bebrapa hari yang lalu, kebetulan saya bertemu dengan bekas tetangganya keke. Spontan saja saya curhat, dan mengatakan semua perasaan, cinta dan kasih sayang yang masih ada sampai saat ini. Tak lupa tentang isi Wall dalam FB Keke tersebut.

Lalu saya katakan kepada bekas tetangga keke ini, bahwa kemungkina dia tidak bahagia dengan suaminya. Andaikan dugaan saya terbukti benar tolong sampaikan bahwa saya masih mencitainya, dan maih berharap untuk bersama walaupun statusnya sudah janda. Bahkan saya juga menceritakan kisah percintaan beby Romeo dengan Mesya Siregar pada teman keke tersebut. Walaupun ditinggalkan, tapi Bebi tetap menerima Mesya yang statusnya sudah jadi janda.

Seminggu kemudia teman keke menelpon, bahwa dia kebtulan ketemu dan Keke lagi mengurus perceraiannya di pengadilan Agama. Duaaarrr. Saya langsung kaget, firasat saya terbukti adanya. Sekarang, apakah kisah cinta saya seperti Bebi Romeo dan Mesya Siregar mari kita tunggua episode selanjutannya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

Pérouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 6 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 9 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 14 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: