Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Yudha Zheano Ahada

Citizen Journalist,writer, designer

Ekspresi Diri Remaja

OPINI | 13 January 2013 | 01:19 Dibaca: 1072   Komentar: 0   1

Ekspresi diri adalah hal yang di butuhkan oleh setiap manusia. Karena ekspresi diri adalah media pengungkapan perasaan dan sikap seseorang. Ekspresi diri sangat penting, karena tanpa ekspresi diri, seseorang tidak akan di kenal di lingkungannya.Tidak ada hal yang menghambat manusia untuk berekspresi, buktinya orang cacat sekalipun, seperti orang tunanetra atau tunawicara contohnya, walaupun cacat, mereka pun mempunyai cara untuk mengekspresikan dirinya. Singkat kata, ekspresi diri adalah hak dan kebutuhan tiap manusia.

Yang menjadi masalah adalah saat ekspresi diri seseorang menjadi berakibat negative/tidak baik bagi orang lain. Seseorang yang sedang frustasi akan berekspresi dengan sikap yang gelisah, mudah tersinggung dan menjadi pemarah terhadap orang lain, jelas ekspresi dari orang yang frustasi ini akan mengganggu orang lain di sekitarnya.

Nah, sekarang apa yang bermasalah dengan eksperesi diri remaja?

Kita semua tentu tahu, bahwa masa remaja di penuhi oleh berjuta sensasi perasaan, ide, gagasan dan kreatifitas. Itu semua membutuhkan media penyaluran, yaitu eksperesi diri. Masa remaja yang merupakan masa pencarian jati diri tentu sangat membutuhkan ekspresi diri untuk menemukan jati diri.

Namun, tidak semua eksperesi diri remaja itu yang berdampak positif dan menyenangkan bagi orang lain. Lingkungan keluarga, sekolah sampai masyarakat umum banyak yang jadi kacau karena ekspresi diri remaja yang sudah tidak sesuai dengan situasi dan kondisi. Ini juga yang menjadi permasalahan dan perbincangan banyak orang, yaitu gangguan ekspresi diri remaja yang menurut kebanyakan kalangan sudah “melampaui batas”.

Mau tidak mau, memang harus di akui kalau saat ini, ekspresi diri remaja sudah tak sesuai lagi dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakat. Macam-macam contohnya, mulai dari perilaku pergaulan bebas, balap liar, tawuran, sampai narkoba telah menjadi masalah serius saat ini. Jelas ini sudah tidak sesuai lagi dengan eksperesi diri positif yang bermanfaat.

Walau remaja sekarang di manjakan dengan perkembangan teknologi informasi yang menyediakan media-media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter untuk remaja mengekspresikan diri, namun media canggih itu tidaklah digunakan secara maksimal oleh remaja untuk eksperesi diri yang positif. Malah banyak yang terjebak pada budaya konsumerisme teknologi, sehingga mereka hanya menjadi konsumen industry teknologi tanpa memikirkan bagaimana teknologi itu di buat dan apa manfaat positif teknologi tersebut.

Inilah yang sangat di sesalkan, remaja yang seharusnya bisa memanfaatkan waktu muda mereka untuk berekspresi malah sibuk dengan kegalauan dan sifat-sifat alay. Lihat saja status facebook maupun Tweet Twitter remaja sekarang, di sanalah mereka dengan brutal mengekspresikan kegalauan mereka, juga menunjukkan gaya gaul dan bahasa-bahasa alay mereka. Padahal kalau mereka sedikit mau mengerti dan mengubah mindset, pola pikir mereka tentang teknologi, pastilah Indonesia dengan jumlah remaja berjuta-juta ini bisa pula menguasai teknologi-teknologi yang selama ini di kuasai bangsa barat. Tapi remaja sekarang kebanyakan hanya berfikir tentang bagaimana mereka menggunakan dan di manjakan oleh teknologi, bukan bagaimana caranya mereka bisa menciptakan teknologi.

Memang tidak semua remaja berpola pikir seperti itu, tapi memang masih banyak yang punya paradigma berpikir seperti itu. Itulah yang pertama harus di ubah untuk mengontrol eksperesi diri remaja, yaitu pola pikir (mindset) remaja itu. Di zaman yang mengglobal ini, kita harus berfikiran menciptakan, bukan sekedar mengonsumsi atau memakai.

Remaja punya ekspresi diri yang dahsyat, jika saja itu di salurkan pada hal-hal yang positif dan bermanfaat, maka akan ada perubahan yang dahsyat menuju masa depan yang cerah dan bersinar. Wahai para remaja, sadarilah dan pikikanlah bagaimana eksperesi dirimu, mari bersama-sama kita mengeksperesikan diri sebagai remaja yang berfikir dan bertindak positif, terencana, bermanfaat dan tentu saja membawa perubahan besar bagi kebaikan bersama. Semoga remaja Indonesia tidak lama lagi akan menjadi remaja yang berekspresi sedahsyat mungkin menggerakkan roda-roda perubahan bangsa ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paser Baroe, Malioboronya Jakarta …

Nanang Diyanto | | 24 November 2014 | 14:09

Catatan Kompasianival: Lebih dari Sekadar …

Ratih Purnamasari | | 24 November 2014 | 13:17

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Pak Mendikbud: Guru Honorer Kerja Rodi, Guru …

Bang Nasr | | 24 November 2014 | 11:48

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 4 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 8 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Komunikasi Orang Tua dan Remaja Macet? …

Endah Soelistyowati | 8 jam lalu

Meladeni Tantangan Thamrin Sonata di …

Tarjum | 8 jam lalu

Mari Berpartisipasi Berbagi bersama Sanggar …

Singgih Swasono | 9 jam lalu

IKMASOR DIY Desak MOU Pendidikan dan …

Arkilaus Baho | 9 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: