Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Desy Nur Rochmah

Mahasiswa di Fisika UNPAD

Yang Muda, yang Sadar dan Bergerak

OPINI | 31 October 2012 | 14:23 Dibaca: 167   Komentar: 0   0

Momen-momen penting yang diperingati sepanjang tahun tampaknya hanyalah sebagai pengisi waktu kosong dan parahnya lagi sama sekali tidak ada esensi yang dijadikan sebagai bahan renungan untuk menata kehidupan yang terus bergulir. Sebut saja momen Sumpah Pemuda yang jatuh di bulan Oktober ini, momen bersejarah yang selalu diperingati ini dianggap sebagai tonggak bersatunya pemuda di negeri ini, mengingatkan kita pada tiga janji yang diikrarkan oleh para pemuda dari seluruh wilayah Indonesia dalam Kongres II di Jakarta 84 tahun silam. Peristiwa tersebut melahirkan energi besar yang mampu menyatukan seluruh pemuda Indonesia untuk berjuang melawan penjajah Belanda pada saat itu. Dan memang benar kenyataannya, Hari Sumpah Pemuda hanya bersifat temporal saja. Dapat kita saksikan hasilnya, setelah berakhir penjajahan fisik dan telah berlalu 67 tahun kemerdekaan Indonesia, kondisi Indonesia sendiri tetap berkubang dalam kemunduran dan kemiskinan? Mengapa hal ini bisa terjadi? Adakah yang salah?

Isi sumpah pemuda ternyata memang telah banyak dilupakan. Sumpah Pemuda lahir lebih didasari semangat mengusir pejajahan dari bumi Indonesia. Begitu penjajah sudah terusir, maka semangat itu akan terkikis oleh waktu dan bahkan hilang. Sumpah Pemuda hanya mampu menggerakkan para pemuda Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan fisik namun lengah saat berhadapan dengan penjajahan-penjajahan intelektual. Dapat kita lihat sekarang, pemuda terkena virus liberalisme dan hedonisme yang mengakibatkan berbagai permasalahan generasi muda saat ini. Sebagai contoh maraknya tawuran pelajar dan mahasiswa akhir-akhir ini, terjebak narkoba, seks bebas juga aborsi. Seperti kabar yang dikutip dari
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief dalam kunjungannya ke kantor VIVAnews, Rabu, 30 Mei 2012 mengatakan, jumlah remaja Indonesia terbilang sangat besar mencapai 63,4 juta  jiwa atau sekitar 26,7 persen dari penduduk Indonesia.

Belum lagi, soal mental dan tingkat intelektualitas sebagian besar pemuda kini masih jauh rasanya untuk memperoleh predikat pemuda idaman. Sulit rasanya mencari sosok pemuda yang mantap hati dan pikirannya tetapi hari ini mudah sekali dicari pemuda yang tidak memiliki semangat juang mencari dan menyuarakan kebenaran dan tidak mempunyai rasa empati yang tinggi terhadap negeri sendiri untuk ditangani. Padahal masa depan Indonesia bahkan dunia berada di pundak para pemuda, akan dibawa kemana kehidupan ini. Karena hal-hal tersebut, pantaslah Indonesia masih berada dalam lingkaran kemiskinan, pantaslah Indonesia dirongrong penjajahan oleh Barat karena tidak ada pemuda yang menjaga negeri ini. Dapat kita saksikan banyak pemuda yang update dalam life style, itu pun dengan mem’bebek’ pada Barat, tetapi terbelakang dalam memperjuangkan kebenaran.

Oleh karena itu, kita sebagai pemuda, membutuhkan sumpah yang tak sekedar sumpah semata. Tak sekadar untaian kalimat yang diikrarkan untuk menyatukan kita karena hidup dalam satu negeri saja. Tapi kita membutuhkan sebuah ikrar yang mampu menyatukan kita dalam sebuah ikatan yang sejatinya benar-benar mengikat, yakni ikatan yang mampu membawa kita kepada kebangkitan, mengokohkan kita untuk melawan penjajahan intelektualitas dengan ikatan yang memiliki ruh yang tak pernah padam, itulah ikatan ideologi. Karena dengan kejelasan pandangan hidup (ideologi) maka pemuda akan memiliki arah gerak yang visioner alias tidak pragmatis.

Ialah Islam ikatan itu. Islam menjadi penguat dan yang menggerakkan manusia termasuk pemuda untuk menjadi pribadi yang tangguh, unggul, dan peka terhadap lingkungan. Peka dalam artian menyadari bahwa yang benar adalah benar dan itu harus diperjuangkan dan menyatakan yang salah itu adalah salah dan harus ditinggalkan. Saatnya, pemuda sadar dan bergerak bersama Islam!

Penulis,

Desy Nur Rochmah

Mahasiswa Fisika UNPAD

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 3 jam lalu

70 Juta Rakyat Siap Masuk Bui …

Pecel Tempe | 5 jam lalu

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 9 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 12 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Toleransi terhadap “Orang Kecil” …

Fantasi | 8 jam lalu

Batu Bacan dari SBY ke Obama Membantu …

Sitti Fatimah | 8 jam lalu

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | 9 jam lalu

Surga Kecil di Sukabumi Utara …

Hari Akbar Muharam ... | 9 jam lalu

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: