Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Fitri Haryanti Harsono Saidil Anwar

Bachelor of Humanities. Alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Minat dalam penulisan digital media selengkapnya

Sumpah Pemuda, yang Muda yang Gak Korupsi!

OPINI | 27 October 2012 | 17:24 Dibaca: 371   Komentar: 0   0

Sumpah Pemuda bergema Anti Korupsi

Sumpah Pemuda bergema

Hidup pemuda! Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Peringatan Sumpah Pemuda ke-84 tahun, tak lepas menggemakan masalah anti korupsi. Persoalan korupsi yang mendarah daging dan marak di kalangan para pejabat negara mendorong generasi muda, terutama mahasiswa menyuarakan anti korupsi, baik dalam bentuk diskusi publik hingga aksi turun ke jalan.

Pemberitaan korupsi di berbagai media massa dan kasus sidang tindak pidana korupsi (tipikor) yang belum tuntas bahkan permasalahannya makin panjang bak ular melingkar.

Kalau dipikir tentu kita jengah dan ada rasa bosan akan kasus korupsi yang makin melilit—tidak jelas ujungnya. Mahasiswa termasuk pilar penyambung lidah rakyat dan berjuang demi rakyat, tidak pernah lelah menyuarakan anti korupsi.

Korupsi dan citra bangsa

Korupsi para pejabat negara amat merugikan citra bangsa ini. Uang rakyat dikorupsi, dibuat untuk kesenangan pribadi, hingga disalahgunakan demi meraup kekayaan lebih besar. Rakyat tidak bisa dibodohi, gaji para pejabat negara rasanya mampu membeli satu buah pulau atau lebih.

Lalu, mengapa uang rakyat pun dikorupsi? Satu pertanyaan fundamental yang memerlukan jawaban panjang. Korupsi turut menurunkan citra bangsa ini. Para pemimpin dan pejabat negara laiknya cermin kepribadian bangsa—meskipun sesungguhnya tidak mewakili kepribadian seluruh rakyat Indonesia.

Anak buah bergerak tergantung bagaimana kepemimpinan atasan. Citra pemimpin tidak baik, maka anak buah juga ikut merasakan imbasnya. Analogi tersebut bisa merefleksikan sebuah negara. Para pejabat negara yang korupsi, maka citra rakyat dan nama bangsa ini ikut terimbas tidak baik.

Bukankah tidak adil seperti itu? Pejabat negara yang korupsi, rakyat menjadi korban. Uang rakyat yang harusnya dimanfaatkan untuk kepentingan negara dan kesejahteraan rakyat ‘dimakan’ demi kepentingan pribadi. Timbul kesenjangan sosial, rakyat dari kalangan bawah semakin menderita tatkala melihat para pejabat negara menikmati uang korupsi.

Ironis dan menyedihkan sekali! Dua fenomena bertolakbelakang, para pejabat yang kesenangan dan duduk nyaman di atas tumpukan uang, sementara rakyat hanya menyaksikan dengan mata kesedihan.

Toh, masih banyak rakyat Indonesia serba kekurangan dan hidup dengan segala kemelaratan, asalkan bisa makan sehari, sudah cukup. Tidakkah uang itu jusru berguna untuk membantu kehidupan rakyat tersebut, bukan ‘dimakan’ sendiri.

Yang muda yang bergerak

Suara anti korupsi dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa terus didengungkan. Mahasiswa beraksi memakai ciri khas jaket masing-masing universitas; membawa pamflet, poster, hingga spanduk bertuliskan semangat anti korupsi. Mereka beraksi dan berorasi di bawah panas terik matahari, berjam-jam lamanya.

Tentu saja mereka beraksi agar suara anti korupsi didengar oleh para pejabat negara dan segala pihak yang terkait. Koruptor dijatuhi hukuman setimpal dan seadil-adilnya. Rakyat menanti keadilan dan supremasi hukum bagi para pejabat negara yang korupsi.

Perkembangan kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menangani kasus korupsi telah disaksikan seluruh rakyat Indonesia. Sidang demi sidang diberitakan media massa. Keterbukaan informasi memacu kita berpikir kritis dalam menganalisis masalah.

Mahasiswa sebagai generasi muda dituntut ikut berpikir kritis atas permasalahan bangsa. Kemudian beraksi menyuarakan pemikiran-pemikiran bagi bangsa ini. Pemuda tidak diam! Mahasiswa tidak diam!

Esensi Sumpah Pemuda anti korupsi bukan hanya menyadarkan kepekaan para koruptor dan pihak-pihak yang terlibat.

Seluruh rakyat Indonesia diharapkan membuka mata hati dan kasus korupsi menjadi pembelajaran penting dalam hidup. Kerugian korupsi melibatkan seluruh elemen bangsa ini. Korupsi merusak citra dan keberlangsungan masa depan bangsa. Kini pemuda—bukan mahasiswa saja harus bergerak.

Pemuda adalah pendobrak sekaligus pengubah bangsa. Para pemuda penggagas bangsa ini mampu mencetuskan Sumpah Pemuda untuk mempersatukan Indonesia. Pemuda harus punya tiang berdiri dan tidak mudah tergoyahkan. Korupsi mengakar dikarenakan tindakan itu ditiru oleh sebagian khalayak publik, baik muda maupun tua.

Korupsi dianggap sah dan sudah wajar. Namun, pemikiran itu harus diubah. Yang baik ditiru, yang buruk jangan ditiru. Ungkapan ini menjadi acuan penting untuk diingat dan diaplikasikan. Salah, bila kita berlomba-lomba ikut melakukan korupsi. Untuk itu, para pemuda bangsa jangan hanya menggembar-gemborkan anti korupsi, tapi aplikasikan juga dalam kehidupan sehari-hari.

Hal-hal kecil pun jangan sekali-kali mudah dikorupsi. Pendidikan dan etika moral yang dimiliki para pemuda bangsa harus mampu mengubah bangsa ini. Masa depan bangsa tanpa beragam kasus korupsi rasanya diimpikan oleh bangsa Indonesia. Kontribusi para pemuda dengan melakukan segala sesuatu sesuai kejujuran amat diharapkan menuju jalan terang bangsa ini.

Wahai, para pemuda, kini nakhoda dan kemudi, kalian yang pegang. Masa depan Indonesia yang bagaimana diciptakan, yang mampu dipertanggungjawabkan kepada para pemuda penggagas dan pendiri bangsa di alam sana.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | | 25 October 2014 | 06:48

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 3 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Semoga Presiden Jokowi Tidak Salah Pilih …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Pelatihan Intel Teach Project Based Learning …

Aosin Suwadi | 9 jam lalu

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 10 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: