
Aku menikahi kesunyian-ia yang sa at Ini erat memelukku dengan penuh kasih. maaf, ini blog saya: http://bowobagusphotography.blogspot.com/ terima kasih :)
Dibaca: 314
Komentar: 15
2 dari 2 Kompasianer menilai inspiratif
copyright by bowo bagus
.
.
.
“Aku benci kehidupanku, aku muak dengan mahligai rumah tanggaku, aku ingin mati! Aku benci wanita!”
Begitulah kiranya keadaan yang melanda sahabat saya saat itu. Banyak hal yang telah ia ceritakan seputar rumah tangganya yang hancur, karena sang istri yang keras kepala, hingga tak mau mengurus anak semata wayang mereka. Hingga akhirnya mereka berpisah, kemudian sahabat saya, sebut saja inisialnya “b” mudik, kembali ke rumah orang tuanya di sebuah kota kecil di Jawa Tengah bersama anak semata wayangnya, dengan maksud hendak membesarkan anaknya, tanpa istrinya tentu saja.
Namun dalam perjalanan waktu, kutuk dan dendamnya pada istrinya mulai merasuki pola kehidupannya yang baru, hingga akhirnya ia menjadi benci pada wanita, cool, dan mulai kecanduan musik metal, sampai punya keinginan untuk bunuh diri.
Saya sempat bertanya, “Mengapa kamu ingin mati?”
Hanya saja jawabnya, “Aku benci melihat pasangan yang bahagia, mengapa aku tak bisa seperti mereka? Padahal aku tidak suka selingkuh, setia, dan bukan buaya darat pula?”
Sempat kehilangan kontak sekitar satu bulan, kemudian tiba-tiba dia mengontak saya dan bilang ingin bertemu, dan akhirnya kami bertemu, namun kini raut mukanya sudah jauh berbeda, tak lagi keruh dan kusam, sudah penuh kedamaian dan rasa tenteram.
“Bro, kemarin gue tiba-tiba ketemu sama cinta pertama gue, waktu SMP, enggak tau kenapa, tiba-tiba dia dapat nomor hape gue, dan akhirnya kita sms-an..”
“Trus bagaimana?”
“Iya dia banyak tanya tentang keluarga gue, dan gue jawab jujur aja, eh dia malah ketawa, dia bilang, makanya jangan cari istri orang jauh, cari tetangga aja,”
“Aku bilang, dulu pengennya sama kamu, tapi gak bisa..”
“Trus?”
“Trus ia bilang, kamu gak boleh benci wanita, ingat kamu dah ada anak, kamu harus relakan semua itu, belajarlah menjadi bapak yang baik, berjuanglah demi anakmu, ‘ntar kalo tuhan kasih yang baru? Masak kamu mo nolak. Juga?”
“Ow…”
“Iya bro, gue tertohok abis, dan sekarang gue dan sadar, bahwa gue mesti memikirkan masa depan anak gue.. makanya..”
“Makanya apa?”
“Iya gue bersyukur banget punya cinta pertama yang baik hati dan tak pernah membenci gue sedikitpun, walau pun sempat dulu gue sangat membencinya.. dan gue senang, dia sekarang sudah bahagia..”
“Nah.. syukurlah, sekarang kamu dah baikan, jangan lagi punya keinginan untuk mengakhiri hidup, Chairil Anwar aja pengen hidup seribu tahun lagi kalo bisa..”
“Ah kau! Makasih yak!”
.
.
.
______________________
Klaten, 9F’12
sometimes,
to tell my life,
I have to be someone else
@bowo bagus