
Dibaca: 552
Komentar: 32
1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif
Sebenarnya saya ini pemalu dengan namanya wanita. Gemetaran badan ini kalau dekat dengan kaum hawa ini. Masa remaja ketika bersekolah dulu, belum pernah sama sekali dengan namanya pacaran. Sekolah SMP dan SMA adalah masa suram tanpa cinta, walaupun banyak sekali wanita yang cantik disekitar saya, tapi takut untuk ngajakin ngobrol dan berkomunikasi.
Pun, ketika berkuliah, apalagi kuliah saat itu Di Politeknik, Teknik Mesin lagi. Yang namanya wanita pada saat itu, tidak ada alias nol. Semua teman di teknik mesin “mencari” wanita di jurusan lain, mereka bergaya ke jurusan yang banyak wanitanya, dan berkenalan dengan mereka. Sedangkan saya, tidak sama sekali, hanya diam dikelas, kalau istirahat dan pulang kuliah, asyik saja nongkrong bareng teman yang “takut” sama wanita.
Saya mulai agak berani dengan wanita, ketika diajak teman satu kampung ku di Palembang berkenalan dengan anak SMA. Ketika itu aku baru lulus kuliah tahun 2001 dan menganggur. Oleh teman, saya diajak dia untuk bertemu cewek SMA yang dia juga belum tahu orangnya. Jadi ceritanya neh, berkenalan lewat telepon, lalu ngajakin ketemuan. Cewek itu dua orang, jadi kalau dia sendirian tidak klop jadinya 2:1. Jadilah teman ini ngajakin saya nemui cewek itu.
Akhirnya bertemu, cewek itu dua orang, teman saya ini sudah janjian dengan namanya Rahmi. Dicarilah antara 2 orang ini siapa yang bernama Rahmi. Ada yang ngaku bernama Rahmi dan berkenalanlah dengan teman ini. Karena Sudah menemukan wanita yang dituju, otomatis wanita yang satu ini, untuk saya. Temanku sudah gelisah menyuruh saya segera ngulurin tangan buat berkenalan. Ya, walaupun agak gemetar juga, akhirnya saya berani memperkenalkan diri.
Nama wanita itu Yuni, kepanjangannya Yunianti, Anak SMA kelas 2. Saya sebenarnya malu menceritakan ini. Tapi mau gimana lagi, ini cerita lucu juga unik kali yah, dimana saya yang telah lulus kuliah masih lugu bercinta. Pun, anak SMA yang sama lugu belum tahu apa-apa.
Jujur, saya menyukai Yuni ini. Anaknya baik, kulitnya putih dan pintar main gitar. Dia belajar main gitar dari kakaknya yang suka ngeband. Sedangkan Yuni sendiri, suka juga ikut kakaknya ngeband, tapi iseng saja, bukan personel inti. Dan Cocok, saya juga suka main gitar, kalau kebetulan ngajakin ketemuan pasti yang dibicarakan kunci gitar lagu terbaru. Yang lucunya, tiap ketemuan kami ini selalu berempat, teman saya tadi, Rahmi dan Yuni.
Tiap hari saya semakin menyukai Yuni, mulai akrab dan memberanikan sendirian untuk menjemput dia pulang sekolah. Jam 12.30 teng, dia keluar dari Sekolah, saya menunggu dia jauh karena malu dilihat temannya. Dia juga mengerti dan manut saja berjalan jauh dari sekolahnya. Pas bertemu, gak tau lagi mau kemana. Yuni juga tidak tahu juga mau jalan kemana. Akhirnya nganter Yuni pulang saja kerumahnya.
Sesampai dirumah, ada ibunya, dikenalin sama Yuni. Gemetaran juga kaki ini ketika berdiri, eh gak taunya ibu yuni baik juga. Disuguhin minuman dan diajak makan siang. Agak malu juga makan siang bareng keluarga Yuni, akhirnya saya pulang saja.
Malamnya, saya nembak Yuni. Saya telepon dia dan ngungkapin kalo saya cinta dia. Eh, dia malah diem, gak ada suaranya. Kukira dimatiin telepon, rupanya dia ngomong, kalau dia menyukaiku juga. Dan klop, akhirnya kami resmi berpacaran melalui telepon wartel.
Besok siang, saya jemput dia sekolah. Dan seperti biasa, tidak tahu mau kemana, main kerumah Yuni saja. Dirumah Yuni, kami bermain gitar, dan genjreng-genjreng tak ada yang menyanyikan lagu, mau nyanyi malu, yuni pun malu juga bernyanyi.
Pacaran yang beginian tiap hari dijalani semenjak nembak dia di telepon. Seminggu berlalu, dua minggu berlalu, hingga Yuni mempunyai ide, mengajak saya menulis puisi atau kata-kata mutiara kedalam sebuah buku tulis dan bertukar.
Maksudnya begini, Yuni nulis puisi/kata indah buatku didalam buku tulis pada malam hari. Saya juga disuruh dia menulis puisi untuknya di buku tulis malam hari. Nah, pas keesokan harinya ketemu, buku yang kami tulis saling bertukar, dan jangan dibuka dulu sebelum kami berpisah hari itu. Unik tidak,, hehehehe.
Pacaran model bertukar buku ini saya jalani dengan hikmat. Yuni pun juga. Setelah bertemu, aku pun membaca apa saja yang ditulis Yuni buat aku. Ada puisi, syair dan terkadang lagu. Aku pun begitu, nulis puisi dan kata-kata pujian buat Yuni. Setelah dibaca, kemudian menulis kembali, dan menunggu waktu esok hari untuk bertukar.
Setiap hari saya menjemput Yuni sekolah, terkadang ada juga Rahmi yang tidak jadi berpacaran dengan temanku. Namun tetap, tukaran buku menjadi prioritas utama dalam pertemuan, apa pun itu. Kalau apel malam minggu tetap harus bertukaran buku. Hal itu berguna untuk mengungkapkan perasaan yang tak terungkap, itu kata Yuni.
Benar juga, saya kan pemalu, mau ngomong langsung juga malu, begitu pun Yuni. Hingga suatu ketika setahun berlalu, Aku dan Yuni Sepakat berpisah karena suatu perbedaan keyakinan mendasar. Perpisahan kami tulis lewat buku yang masih saya simpan rapi di lemari buku.