Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Ahmad Jilul Qur'ani Farid

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga

Sumpah Pemuda: Momentum Kebangkitan Pemuda!

OPINI | 28 October 2011 | 05:44 Dibaca: 226   Komentar: 2   1

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.Q.S Al Kahfi : 13 – 14

***

Berbicara masalah pemuda, ia adalah hal yang selalu menarik untuk dibahas, sebab pemuda telah mewarnai lika-liku perjalanan sejarah. Bicara pemuda adalah bicara tentang masa depan, sebab merekalah yang menjadi pemimpin masa depan suatu bangsa, merekalah yang menjadi potret kondisi sebuah bangsa, merekalah yang menjadi harapan dimana masa depan bangsa dibebankan ke punggung mereka, dimana tanggung jawab ke depannya akan sepenuhnya diamanatkan ke tangan mereka. Tak dapat dipungkiri, ia telah menoreh catatan sejarah dengan tinta emas sepanjang peradaban manusia. Namun yang menjadi ironi, semakin lama, eksistensi pemuda tenggelam seiring berjalannya zaman.

Peran dan eksistensi pemuda tak dapat dielakkan lagi, ia menjadi sumber daya manusia paling strategis yang sangat ideal sebagai motor dari sebuah misi, maka semua pihak selalu berebut mendapatkannya. Sebab jika diibaratkan kehidupan manusia seperti grafik yang naik kemudian turun, pemuda ada di puncak grafik tersebut, ketika muda, seluruh potensi baik fisik maupun mental sedang mengalami perkembangan yang luar biasa. Jika perjalanan hidup manusia diibaratkan pergantian siang dan malam, maka pemuda ada di siang hari ketika terik begitu menyengat, penuh semangat. Maka tak heran, pemuda telah terbukti mampu memecah kebekuan dan kebuntuan sepanjang sejarah manusia.

28 Oktober, hari dimana peran pemuda direfleksikan kembali, bahwa bangsa ini juga digerakkan dengan dinamis oleh generasi muda. 28 Oktober bukan sekedar ketika sumpah dilantunkan, toh jika ditanya kepada generasi muda, tak sedikit yang salah bahkan tidak hafal sama sekali terhadap “teks” sumpah tersebut. Ia buka sekedar tentang “teks” sumpah, namun ada esensi lain yang begitu penting yang harus dipahami oleh setiap generasi muda yang katanya adalah agent of change.

Sumpah Pemuda, adalah tentang pemuda yang memiliki keyakinan dan kedalaman pemahaman, sadar dan memahami akan jati diri mereka, mereka paham apa visi mereka untuk bangsanya. Mereka sadar akan potensinya, sehingga tak pernah ada kata menunggu untuk bergerak, mereka tak menyalahkan siapapun, mereka tahu apa yang harus dicapai dari perjuangannya, hanya aksi nyata yang menjadi jawabannya. Dan kini, pemuda telah kehilangan semua itu, pemuda telah mengalami krisis identitas, tak kenal akan jati dirinya dan tujuannya, tertipu oleh fatamorgana dunia.

Sumpah Pemuda, adalah juga tentang keteguhan hati dan kebulatan tekad, bahwa visi besar, tak dapat diraih tanpa persatuan, tanpa ikatan yang kuat atas setiap komponennya. Sehingga tiada kemenangan tanpa kekuatan, tiada kekuatan tanpa persatuan, keteguhan hati untuk membela dan menjunjung tinggi persatuan inilah yang membuat kemenagan itu semakin nyata. Dan lagi-lagi kini, keteguhan hati itu seakan pudar, pemuda sibuk terombang ambing dalam euforia yang memabukkan tanpa sedikitpun prinsip dan keteguhan tentang apa yang harus mereka perjuangkan.

Sumpah Pemuda, juga tentang semangat, semangat untuk kebangkitan. Pemuda telah memberikan inspirasi kebangkitan dengan semangatnya laksana api yang berkobar. Ketika kekuatan diri dan bangsa mulai meredup, tiada yang lain selain semangat seterik mentari yang mampu membangkitkannya. Namun kini, semangat itupun kini telah redup dalam diri pemuda, mereka kini asyik terbuai dalam keterpurukan tanpa sedikitpun gairah untuk bangkit.

Sumpah Pemuda, ialah pun tentang pemuda yang senantiasa bersifat deklaratif nan proklamatif, tak malu untuk berteriak lantang kepada dunia, bahwa ia siap berdiri di garda terdepan untuk menyongsong perubahan, deklaratif untuk meneriakkan kebenaran dan menyadarkan tiap-tiap telinga yang mendengar untuk bangkit dari keterpurukan, tak ragu untuk mengikrarkan janji-janji kemenangan. Tapi kini pemuda malah bersembunyi di balik keterpurukan, berlindung di bawah ketiak kemalasan, dunia tak lagi mendengar teriakan lantangnya, ia terdiam diantara rasa acuhnya.

Ironi dahulu dan kini tak cukupkah menggelitik hati para pemuda?, dunia yang merindukan kembali kehadirannya, bangsa yang menanti aksi nyatanya, pemuda kini sedang diteriaki dari berbagai penjuru “Bangkit pemuda, bangkit, kami merindukan hadirmu, kami menantikan aksi nyatamu!”. Maka yang harus kembali dan senantiasa disadari, dipahami, diyakini, yakni jati diri dan visi agung para pemuda. Kemudian keteguhan dan kebulatan tekad untuk meraih visinya dengan kekuatan dan persatuan. Lalu semangat yang telah redup harus segera dinyalakan, untuk menyalakan obor kebangkitan untuk menyinari gelapnya keterpurukan. Dan terakhir tak perlu lagi ada keraguan untuk mendeklarasikan dan memproklamasikan pada dunia, bahwa pemuda siap untuk menyongsong perubahan untuk meraih kemenangan. Maka pemuda harus belajar kembali dari para pendahulu, menyadari realitas yang terjadi, sehingga tiada yang lain yang terpikir dalam benak “bangsa ini menunggu kita, jawaban atas semua masalah ini ada pada aksi nyata kita”.

Kota Pahlawan, 00:31 28 Oktober 2011

Refleksi atas sumpah pemuda

Ahmad Jilul Qur’ani Farid

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 5 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 8 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 12 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 14 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: