Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Irul Sw

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis, dia akan hilang dari sejarah. selengkapnya

Shalat Berjama’ah Mendapat Pahala 27 Kali? Ah.. Itu Dulu!

OPINI | 15 September 2011 | 07:12 Dibaca: 1921   Komentar: 34   1

Hampir semua umat Islam sepakat, bahwa shalat (wajib) berjamaah mendapatkan pahala 27 kali lipat bila dibandingkan dengan shalat sendirian. Besarnya perbandingan pahala ini menggambarkan bahwa nilai shalat sendirian itu tidak ada apa apanya bila dibandingkan dengan shalat berjamaah. Padahal sering kita rasakan shalat secara sendirian  jauh lebih membuat kita konsentrasi dan khusuk bila dibandingkan dengan shalat berjamaah. Kenapa bisa demikian?.

Dalam banyak riwayat sering kita dengar atau baca bahwa Nabi Muhammad saw “sangat marah” bila mendapati jamaa’ahnya absen menhadiri shalat berjamaah di masjid tanpa alasan yang jelas. Bahkan Rasullulah sering mengawasi satu persatu para hadirin yang memasuki masjid menjelang dimulainya shalat berjamaah. Beliau juga selalu menanyakan kenapa si A atau si B kok tidak hadir dan apa alasannya. Perhatian Nabi Ini menggambarkan bahwa Rasulullah “membenci” shalat sendirian, walaupun beliau tidak melarangnya.

Setelah mengucapkan salam sebagai tanda selesainya shalat, Nabi sebagai imam, biasanya membalikkan badan menghadap kepada para jamaah, beliau kemudian menanyakan siapa hari ini yang tidak bisa makan dan siapa yang kelebihan makanan dirumahnya. Interaksi antar jamaah inilah yang menyebabkan kita tidak pernah mendengar adanya cerita kelaparan diantara para sahabat nabi walaupun hidup mereka selalu dilanda kesulitan.

Bukan cuma itu saja, shalat berjamaah juga dijadikan Nabi sebagai “reguler meeting” untuk mencari solusi solusi bagi problem problem masyarakatnya pada saat perang dan damai. Bahkan bila ada masalah yang belum atau tidak ada rujukan ayat Al Qur’annya, Nabi selalu menyerahkan pengambilan keputusannya kepada para jama’ah secara demokratis, dalam hal demikian malah Rosulullah sering kalah voting melawan jama’ah beliau. Dari sinilah kita dapatkan tradisi tentang “Sunnah Rosul” yang kita kenal sampai sekarang.

Itulah gambaran indah dan pentingnya shalat berjamaah di jaman Nabi. Sehingga orang akan malu bila tidak hadir dalam shalat berjamaah karena dianggap oleh lingkungannya sebagai manusia asosial. Maka sangatlah wajar kalau Rasulullah marah bila ada yang absen tanpa alasan yang jelas. Inilah yang menyebabkan kita selalu mendengar keadilan yang selalu terjaga di antara para sahabat Nabi, tidak ada kemiskinan, tidak ada yang terlalu berlebih lebihan dan tidak ada friksi friksi diantara umat beliau. Karena segala permasalahan umat selalu di up date secara sangat up to date dalam setiap shalat berjama’ah.

Shalat berjama’ah adalah implementasi manusia sebagai mahluk komunal. Shalat sebagai ritual tidak ada apa apanya bila dibandingkan dengan substansinya yang bersifat sosial. Berbeda 27 kali!. Shalat sebagai ritus adalah cara, sedangkan kemakmuran dan keadilan adalah tujuan.

Saat ini kita sangat tidak layak untuk mengklaim 27 kali pahala dalam shalat shalat berjamaah kita. Jangankan berjuang demi kemakmuran dan keadilan, bahkan bertegur sapapun jarang kita lakukan, setelah salam dan “amin amin” biasanya kita langsung ngacir. Shalat shalat kita kebanyakan hanya untuk “ngejar setoran” saja layaknya sopir angkutan umum, jauh dari yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Kita lebih mengutamakan cara namun melupakan tujuan. Memuja formalitas tetapi melupakan esensi.

Umat Islam telah menjauh dari apa apa yang telah dicontohkan oleh Nabi saw. Itulah sebabnya kenapa negara negara yang mayoritas penduduknya adalah Islam, disitu selalu bercokol kemiskinan dan ketidak adilan. Apa ini mungkin karena shalat shalat kita sudah termasuk dalam :http://filsafat.kompasiana.com/2011/05/25/sholat-yang-dikutuk-tuhan/?. Bagaimanapun, shalat yang yang tidak diletakkan pada sebuah konteks sosial, maka itu akan tampak seperti lelucon, menggerak gerakkan badan sambil mulut komat kamit.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 16 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 17 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 7 jam lalu

MEA 2015; Bahaya Besar bagi Indonesia …

Choerunnisa Rumaria | 7 jam lalu

Bersenang-Senang dengan Buku …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Depok …

Syaiful W. Harahap | 8 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: