Artikel

Muda

Dimas Sumarsono

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Semua manusia pasti punya kelebihan masing-masing. Tuhan tak akan menciptakan anda tanpa peran sama sekali di dunia ini. walaupun itu sekecil apapun. Mudahan peran diriku ini bisa memberikan kebahagiaan bagi orang lain. another blog: http://uikpokpok.blogspot.com

Indonesia, Di Kecilku dan Semangatku


OPINI | 16 August 2011 | 23:39 Dibaca: 103   Komentar: 2   1 dari 1 Kompasianer menilai menarik

13135122082098632953

Indonesia Merah Putih (www.google.co.id)

Hmm… Bagaimana ya, caranya menulis tentang rasa nasionalisme yang saya ketahui selama ini. Bagaimana tidak, saya bukanlah generasi yang lahir ketika zaman penjajahan, zaman perjuangan dan zaman disaat lahirnya kemerdekaan. Saya bingung, tapi saya mencoba untuk berusaha membagi pengalaman saya tentang rasa kebanggaan, patriot dan nasionalisme saya terhadap Indonesia kepada kawan semua.

Dulu pada waktu saya masih kecil mungkin dalam tingkatan SD, di kota saya waktu itu yaitu kota Tarakan, Kalimantan Timur, pada setiap merayakan 17 Agustusan pasti diadakan pawai pembangunan. Tahu tidak kawan, dalam pawai itu banyak mobil atau kendaraan yang di hias semenarik mungkin. Ada yang di hias seperti hutan pepohonan, di hias aneka kembang, bahkan ada yang pula di hias membentuk hewan dinosaurus “T-rex” pokoknya lucu deh, bahkan juga ada kendaraan yang dihias mewakili brand produk yang di jualnya, seperti di bentuk menyerupai kotak mie instan, mie instan yang mempunyai ikon orang memakai surban dan bebaju arab. Lalu di atap mobilnya ada orang yang menyerupai ikon tersebut duduk dan sesekali berdiri dan membagikan mie instan tersebut sebagai pernak-pernik hadiah kepada penonton pawai. Kadang jika beruntung, saya berhasil mendapatkan hadiah tersebut, betapa bahagianya kawan. Namun sebenarnya acara pawai pembangunan tersebut tidak hanya diisi dengan iringan mobil, melainkan di buka dengan barisan anak-anak mewakili sekolah dan di tutup dengan iring-iringan sepeda pancal. Sepeda pancalnya bukan sembarang sepeda kawan, tapi sepeda yang dihias-hias bahkan ada juga sepeda yang tinggi-tinggi. Sampai saat ini, ingatan itu masih tersimpan jelas kawan dan di dalam hati saya, saya mengucapkan saya bangga menjadi bangsa Indonesia yang merdeka.

Dan sekarang kawan, Indonesia yang dulu saya kenal ketika saya kecil sekarang telah berubah. Sekarang Indonesia telah menjadi Indonesia yang terbuka wawasannya karena informasi sudah terbuka lebar sehingga rakyatnya sudah pintar dan pemimpinnya harus bisa menangani rakyatnya yang pintar-pintar ini. Saking pintarnya banyak yang aneh-aneh, seperti aksi pemboman di pulau Bali yang pertama kali membuat hati saya pilu, sedih melihat korban-korbannya. Ada juga kawan, kasus korupsi yang tak pernah berhenti membuat miris perasaan ini. Di saat bangsa lain sudah bergerak maju, bangsa kita masih berkutat pada masalah yang itu-itu saja.

Namun, ada pula yang membanggakan kawan. Akhir-akhir ini, Timnas sepakbola kita mengharumkan nama Indonesia, meskipun kalah di final AFF namun lolos di putaran ke-tiga pra piala dunia. Ketika Timnas bertanding, kita bersatu menjadi pendukungnya, untuk sementara kita melupakan masalah negeri ini. Kita bangga dengan Timnas sepakbola kita, berarti kita bangga dengan Indonesia.

Ayo kawan, marilah kita berubah, kita lah generasi selanjutnya. Seperti halnya kita bersatu ketika menyemangati Timnas sepakbola kita, kita sampingkan dulu hal-hal yang memecah kita. Rasa patriot kita harus tetap membara walaupun sudah beda tempat kita menaruhnya. Dulu kakek nenek kita mengangkat senjata, kita sekarang mengangkat ilmu mengisi kemerdekaan. Tidak usah muluk-muluk kawan, mulailah dengan hal kecil yang kita bisa. Jika kita seorang guru, didiklah murid yang berakhlak dan berilmu. Jika kita seorang penulis, berilah tulisan yang bermanfaat. Bahkan jika kita seorang mahasiswa, tuntutlah ilmu dan amalkan sebaik mungkin.

Jadilah kita bangsa yang bersatu, walaupun kita beraneka ragam daerah tapi tetaplah kita satu Indonesia. Seperti kalimat yang terletak di bawah Burung Garuda dan di cengkram oleh kedua kakinya, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Dirgahayu Indonesiaku

Kita adalah bangsa yang hebat, aku yakin itu kawan, kita pasti bisa!

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: