Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Petrik Matanasi

Peziarah & Pemerhati Sejarah Nusantara. Asal Balikpapan. Kuliah sejarah 7 tahun di UNY Jogja. Kini selengkapnya

Kenapa Kaum Muda Harus Berperang

REP | 18 September 2010 | 07:06 Dibaca: 78   Komentar: 2   1

Untuk siapa pemuda Amerika berperang lawan komunis di hutan belantara Vietnam? Selalu ditekankan bahwa mereka berperang untuk Negara. Apakah hanya seperti itu?

Tahun 1968, sekelompok pemuda Amerika bertaruh nyawa di belantara Vietnam. Sebagian dari mereka yang gila perang tentu beranggapan Vietnam tempat menyenangkan. Sebagian lagi merasa Vietnam adalah neraka yang indah di kala malam penuh bintang. Para pemuda itu berada dalam satu peleton. Merekalah yang diceritakan dalam Platoon. Karya Oliver Stone, yang pernah bernasib seperti mereka juga. Dikirim jadi serdadu ke Vietnam melawan Vietcong.
Bob Barnes, salah satu bintara peleton mereka adalah orang bengis gila perang dan sok kuasa. Letnan, komandan peleton, selalu dilangkahi Barnes. Sementara itu Elias Grodin yang nampak muak dengan perang adalah seteru Barnes. Baik Barnes maupun Elias punya pengikut. Digambarkan Barnes memiliki pengikut berwatak buruk. Sementara Elias memiliki pengikut berjiwa bebas dan suka berbagi asap ganja. Elias dan kawan-kawan tergambar sebagai kelompok pemuda Amerika kelas bawah yang layak dijadikan tumbal demi kejayaan Amerika.
Barnes dan kawan-kawan tentu harapan kaum kolot dan berkuasa yang ribuan mil jauhnya dari Vietnam. Kaum kolot yang menginginkan kemenangan atas Vietnam. Demi menghancurkan komunisme, kata mereka. Barnes dan kawan-kawan mungkin lebih cocok menjadi serdadu bayaran sebenarnya.
Bagaimanapun, mengirim pemuda-pemuda itu ke Amerika akan punya banyak manfaat bagi pemerintah. Membantu memenangkan perang melawan Vietcong dan sekutu-sekutu komunismenya. Dan, secara tidak langsung, akan mengurangi pemuda-pemuda urban di Amerika sendiri. Cukup berhasil juga. Setidaknya ribuan pemuda Amerika tewas dan hilang dalam kontra-gerilya mereka di belantara hutan Vietnam. Kemenangan melawan komunis tidak didapat, tapi pemuda bermasalah bisa dikurangi.
Perang memang makan biaya besar sejak dulu. Tapi, uang bukan masalah bagi Amerika. Perang menjadi solusi bagi Amerika. Sejak Perang Dunia II setidaknya. Perang bisa mengurangi pengangguran Amerika dan sedikit melupakan depresi Ekonomi yang mereka alami sejak 1929. Beda Perang Dunia II dan Perang Vietnam adalah, dalam Perang Dunia II Amerika sukses besar dan dalam perang Vietnam, sedikit berhasil. Kematian sebagian pemuda tentu menyisakan banyak ruang hidup untuk pemuda-pemuda lain.
Menjadi prioritas yang akan dikirim perang tentu mereka yang kurang berpendidikan. Mereka akan menjadi tamtama dan jika beruntung bisa jadi kopral. Dimanapun di dunia ini, sejak zaman dulu, tamtama adalah santapan peluru pertama. Tamtama adalah garda depan dalam perang. Jadi sebuah Angkatan Perang butuh banyak tamtama. Biasanya, memang orang-orang malanglah yang menjadi tamtama. Gaji dan fasilitas kelas bawah dan berperang dibarisan terdepan. Dengan resiko kematian jauh lebih besar daripada perwira dan para jenderalnya.

Tidak sulit untuk mendapatkan pemuda untuk pergi berperang. Negara punya kuasa penuh dengan program wajib militer-nya. Mau tidak mau, pemuda yang memenuhi syarat wajib masuk militer dan pergi berperang. Syukur jika para pemuda itu mengajukan diri.
Sebelum ditembak di Texas, John F Kennedy, pernah membuai kaum nasionalis dengan kalimatnya, “jangan tanya apa Negara beri untukmu, tapi tanya apa yang kau beri untuk negaramu?”. Kennedy muda memang pernah terjun ke medan pasifik dalam perang dunia II sebagai Letnan Angkatan Laut. Kalimat Kennedy sukses membujuk banyak orang dipenjuru dunia. Mengajak semua orang, banyak diantaranya adalah orang-orang miskin, untuk memberi pada Negara, sementara orang-orang seperti Kennedy, berbagai penjuru dunia, lalu mengambil banyak dari Negara.
Kennedy adalah bagian kecil dari elit kaya Amerika yang kuasai Amerika dan pemuda-pemudanya, untuk menjaga hidup mewah ala keluarga kaya Amerika. Memang, kemewahan dan kemakmuran sebagian orang Amerika ditunjang oleh modal mereka yang kuasai industri Amerika, juga dunia. Ketika komunisme merebak. Kaum pemodal itu terancam, lalu Kennedy si pelindung kaum pemodal itu, juga para Presiden selanjutnya, memaksa banyak pemuda berperang. Tentu saja, ada sebagian kalangan yang rela mengorbankan putranya, saudara laki-lakinya, bahkan dirinya sendiri untuk terjun berperang ke Vietnam. Tentu karena kalimat dasyat Kennedy yang menggiring kebodohan itu.
Kaum kolot liberal tentu benci pada Muhamad Ali Sang Juara Tinju legendaris dunia. Ali menolak wajib militer dengan lari ke Kanada hingga gelar juara dunianya dicabut. Ali jelas contoh buruk yang ditanamkan pada pemuda-pemuda Amerika. Tapi, Ali punya prinsip dan sikap yang harus dihargai, meski kaum kolot tidak menghargainya. Bagi Ali, perang Vietnam bukan perangnya.
Ali tidak sendiri. Diakhir dekade 1960an, muncul kampanye anti perang di Amerika serikat sendiri. Mereka menolak wajib militer, meski bukan tidak mungkin diantara mereka yang diseret berperang ke Vietnam juga. Para pemuda anti perang ini muak dan memilih tidak peduli dengan “teori domino” melawan komunisme. Bagi mereka, “yang penting damai”. Hingga kemudian Lennon menulis dan menyanyikan lagu Imagine. Negara memang merepotkan nyatanya. Membuat sebagian orang harus mati. Hal ini terjadi dalam sejarah dunia, juga di seluruh penjuru dunia. Belakangan masih terjadi di Negara dunia ketiga.
Bagaimanapun perang telah menghilangkan masa-muda, bahkan nyawa, para pemuda. Usia yang seharusnya menjadi usia produktif untuk berkarya warnai dunia. Usia awal untuk nikmati dunia. Perang telah merengut banyak nyawa pemuda hanya karena ideology dan kepentingan yang hanya menguntungkan sekelompok kecil elit. Dimasa depan, pemuda harus dituntut untuk terus bertanya, jika perlu menentang, kenapa pemuda harus berperang?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 13 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 15 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 15 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 16 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: