Back to Kompasiana
Artikel

Muda

Mariska Lubis

Baru saja menyelesaikan buku “Wahai Pemimpin Bangsa!! Belajar Dari Seks, Dong!!!” yang diterbitkan oleh Grasindo selengkapnya

Sampai Kapan Harus Berharap dan Berusaha?!

OPINI | 02 July 2010 | 23:30 Dibaca: 625   Komentar: 98   15

love_heart_-_candle

Illustrasi: love_heart_-_candle

Harapan itu selalu saja diberikan meskipun seringkali terbentur di tengah jalan oleh kerikil-kerikil yang ada dalam perjalanan cinta. Usaha pun terus dilakukan agar sama-sama bisa melanjutkan perjalanan bersama mencapai harapan dan juga mimpi bersama. Namun sayangnya, usaha yang dilakukan seringkali membuat capek dan jenuh. Harapan dan mimpi itu sepertinya hanyalah sebuah penantian yang tak akan pernah terwujud. Apakah memang tidak perlu lagi berharap dan berusaha?!

Awal perjalanan cinta selalu saja menyenangkan. Banyak sekali cerita dan kenangan manis yang membuat hati berbung-bunga. Ucapan, rayuan, dan segala kata manisnya terurai dengan begitu indahnya. Perilaku dan polah tingkahnya pun sangat mesra. Membuat jantung tak berhenti berdegup kencang dan hati pun dipenuhi dengan rasa dan keinginan. Lamunan dan khayalan tentang keindahan saat bersama selalu membayang di pelupuk mata. Di manapun dan kapanpun bayangan itu tak pernah bisa lepas dan hilang. Melamun dan melamun dan melamun lagi.

Apalagi jika pada awalnya itu ditemukan banyak sekali persamaan. Merasa sama-sama bisa saling mengerti dan memahami satu dengan yang lainnya. Sama-sama tahu apa yang diinginkan oleh yang satu dan yang lainnya. Sama-sama pula memiliki pengalaman yang sama. Semakin mantap saja rasa itu. Semakin yakin dan semakin banyak harapan dan mimpi.

Sampai kemudian bertemu dengan perbedaan untuk pertama kalinya. Sama-sama atau membuat salah satu bingung dan merasa tak karuan. Gelisah dan ragu pun kemudian timbul. Usaha masih bisa dilakukan dan masalah masih bisa dihentikan, namun bila terus saja terjadi, kegelisahan dan keraguan itu terus semakin memuncak. Lebih parah lagi bila komunikasi semakin berkurang dan kata-kata manis penuh godaan itu sudah tidak ada lagi. Semakin bingung dan semakin bingung. Melamun dan melamun dan melamun lagi. Bedanya kali ini lamunannya berbeda. Biasanya sangat negatif. Iya, kan?!

Seorang perempuan mendesah dalam dan panjang. Sudah beberapa bulan ini dia menjalin asmara dengan seorang pria. Pada awalnya semuanya baik-baik saja, sampai kemudian dia merasa pria itu seperti menghindar darinya., Tidak ada lagi perhatian yang seperti biasanya diberikan. Jangankan kata-kata manis dan rayuan, untuk bicara pun terkadang sepertinya malas.

“Mbak, saya nggak ngerti sebenarnya apa yang terjadi. Selama ini saya selalu berusaha untuk mengalah. Saya ikuti semua permainan dan keinginannya. Kalau dia marah, meskipun bukan saya yang salah, tetap saya yang mengalah dan meminta maaf duluan. Saya tidak ingin kami berpisah, tetapi sepertinya ada yang salah dalam hubungan kami. Saya bahkan menjadi takut untuk mengajaknya bicara duluan. Saya tidak akan menyapanya bila dia tidak melakukannya duluan. Untuk bercerita pun saya segan. Dia sepertinya malas mendengarkan cerita saya. Lebih baik saya mendengarkan saja dia, daripada saya harus cerita. Padahal saya selalu ingin bercerita banyak kepadanya. Apa yang harus saya lakukan, Mbak?! Apa dia mencintai saya?! Apa dia begini karena dia memiliki cinta yang lainnya?!”

Terus terang saja, saya tertawa kecil di dalam hati mengetahui semua keluh kesahnya ini. Soalnya, saya pun seringkali mengalami hal yang sama. Semua pun pernah mengalami hal yang sama, bukan?! Ini bukan sesuatu yang aneh tetapi memang sangat wajar sekali terjadi karena memang ini adalah proses dalam bercinta. Bila memang cinta itu ada, tentunya masalah bisa diselesaikan namun bila tidak ada, pasti akan berhenti dengan sendirinya. Lalu, bagaimana bisa mengetahuinya?! Hehehe….

Ada baiknya sebelum meneruskan perjalanan dalam bercinta, kita introspkesi diri terlebih dahulu. Apakah kita memang benar-benar mencintainya atau hanya sekedar nafsu saja?! Apa hanya karena sedang kesepian dan sedang membutuhkan cinta?! Apakah bukan karena hanya “sudah memenuhi kriteria” saja?! Apa yang telah kita lakukan selama ini?! Apakah memang untuk berdua atau hanya untuk memuaskan keinginan diri sendiri saja?!

Terkadang dan bahkan seringkali berharap itu juga sebenarnya tidak perlu diharapkan. Kita seringkali salah dalam menilai diri kita sendiri, apalagi menilai yang lain. Kata saja bisa diartikan berbeda dan beragam. Iya, kan?!

Usaha pun terkadang sebenarnya tidak perlu juga terlalu diupayakan. Kita seringkali tidak jujur dalam melakukan perbuatan. Kita sebenarnya tahu apa isi hati kita yang sebenarnya namun tetap saja melakukannya dengan alasan untuk membuat yang lain bahagia. Bila memang demikian, sangat diperlukan ketulusan dan keikhlasan dalam melakukannya. Bila masih ingin menharapkan timbal balik dan balasan, apa itu sudah tulus dan ihlas?! Coba direnungkan kembali!!!

Alangkah baiknya juga bila sama-sama mau terbuka dan jujur untuk menceritakan apa yang dirasakan. Jangan pakai otot tapi, ya!!! Benar-benar harus dalam kondisi stabil dan tidak emosi sama sekali. Bicaralah dengan tenang dan pilihlah kalimat yang positif dengan tidak saling menuding ataupun menuduh. Sama-sama fokus pada tujuan bersama, yaitu untuk mencari langkah yang terbaik yang harus dilakukan bersama.

Bilapun memang ternyata perjalanan harus dihentikan, janganlah kemudian menjadi marah ataupun menyesali semuanya!!! Biarpun kalau kemudian ternyata dia hanya main-main saja!!! Meskipun dia ternyata memiliki yang lain!!! Meskipun dia selama ini hanya pura-pura saja!!! Meskipun semua itu hanyalah palsu!!! Maafkan dan kasihanilah dia. Kasihilah dia!!! Dia tidak tahu apa yang sudah diperbuatnya itu bukan tidak saja baik untuk kita tetapi yang paling parah adalah untuk dirinya sendiri. Penyesalan itu selalu datang belakangan!!!

Jangan juga lalu menyalahkan diri sendiri dan merasa bodoh. Setiap orang pernah berbuat salah, kok!!! Tergantung bagaimana kemudian kita mau mengambil hikmah dari semua ini?! Jadikan semua ini pijakan untuk melangkah lebih maju lagi ke depan, ya!!! Semua ini adalah bagian dari proses pembelajaran dalam hidup. Semua yang terbaik yang selalu diberikan oleh-Nya. Suka dan duka adalah pelajaran yang terbaik dari-Nya. Ambillah selalu hikmah dan manfaatnya.

Selamat berakhir pekan!!!

Salam Kompasiana,

Mariska Lubis

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50


TRENDING ARTICLES

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 11 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 11 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 12 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pijat Refleksi Hilangkan Keluhan Lambungku …

Isti | 7 jam lalu

(Lumen Histoire) Sejarah dan Seputar …

Razaf Pari | 8 jam lalu

Kisah Pilu “Gerbong Maut” di …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Batik Tulis Ekspresif yang Eksklusif …

Anindita Adhiwijaya... | 8 jam lalu

Akherat, Maya Atau Nyata? …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: